Bencana Tanah Gerak Ancam Banyuwangi

0
641
Foto: Detikcom

BANYUWANGI – Banyuwangi rawan bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami. Perkembangan terbaru, ternyata gempa bumi tidak hanya berpotensi menimbulkan terjadinya tsunami, tetapi juga bisa mengakibatkan likuifaksi atau tanah gerak.

Dilansir dari Detikcom, likuifaksi terjadi dari kondisi geologis labil yang ada di daratan karena air di bawah tanah. Jika gempa terjadi, hal ini akan memicu air bergerak dan menggeser tanah beberapa meter.

“Dalam rilis peta wilayah Badan Geologi, Banyuwangi menjadi salah satu wilayah yang masuk kategori rawan bencana disertai dengan likuifaksi,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi Eka Muharam, Jumat (17/1/2020).

Eka mengatakan, hingga kini BPBD Banyuwangi menurutnya belum bisa mengidentifikasi secara detil kecamatan dan desa mana yang masuk daerah rawan likuifaksi ini.

Untuk itu, pihaknya sedang menyusun rencana kontigensi terkait dengan potensi likuifaksi. Karena jika dilihat petanya, wilayah Banyuwangi yang masuk wilayah rawan likuifaksi cukup luas.

“Petanya sudah ada tetapi kita masih belum memetakan wilayah ini ada di Kecamatan apa Desa apa. Karena baru dirilis,” jelas Eka.

“Saya kira belum ada satu daerah pun yang menindak lanjuti itu. Nah untuk mengidentifikasi harus ada tim ahli,” imbuhnya.

Eka menyebut, potensi likuifaksi di Banyuwangi dikategorikan ada dua. Yakni kategori tinggi dan ada kategori sedang. Yang paling banyak memang kategori sedang. Jika dibandingkan dengan kabupaten tetangga seperti Jember dan Lumajang, Banyuwangi memiliki wilayah yang masuk kategori tinggi. Tapi sebarannya yang kategori tinggi itu tidak terlalu besar.

“Secara awam peta rawan bencana likuifaksi itu bisa dibaca. Peta yang dirilis Badan Geologi itu peta Jawa Timur mulai Lumajang, Jember hingga Banyuwangi,” jelasnya.

Baca :
Pantau Pergerakan Pemudik, Dirikan 17 Checkpoint

Eka menjelaskan wilayah yang tingkat kerawanannya masuk kategori tinggi itu ada di Wongsorejo hingga Grajagan. Perkiraan wilayahnya ada di pinggir pantai. Untuk yang kategori tingkat kerawanan menengah ada di wilayah setelah Grajagan hingga Sarongan khususnya yang di pinggir pantai.

“Tetapi itu butuh justifikasi ahli. Ini hanya penglihatan awam berdasarkan peta yang ada,” tegasnya.

Di Banyuwangi, lanjutnya, potensi likuifaksi itu lebih banyak di daerah yang berdekatan dengan pesisir. Karena daratan yang paling berpotensi pertama kali terkena getaran gempa adalah wilayah pesisir.

Apalagi, wilayah pesisir dulu banyak rawa-rawa. Kemudian dalam perjalanan sejarahnya di pinggir pantai wilayah selatan itu rimbun dengan tanaman bakau. Padahal tempat itu dulunya merupakan wilayah yang tanahnya menyimpan banyak air.

“Nah sehingga ketika ditebang dan dijadikan bangunan itukan memberikan potensi bahaya,” pungkasnya.