Cari Korban KMP Rafelia II, Menyelam Hingga Kedalaman 20 Meter

0
84

 Danlanal-Letkol-Laut-(P)-Wahyu-Endriawan-ikut-menyelam-ke-dasar-laut-untuk-mencari-keberadaan-korban-kapal-yang-tenggelam.

Pencarian korban tenggelamnya KMP Rafelia II tak lepas dari peran para penyelam yang tergabung dalam Bangsring Boat. Mereka bekerja pagi sampai sore untuk menyelami Selat  Bali dengan kedalaman 20 meter. Selain penyelam tradisional, Danlanal Banyuwangi Letkol Laut (P) Wahyu Endriawan turun sendiri ke dasar laut.

Selain dari unsur Basarnas, TNI/Polri, BPBD, KPLP dan instansi lainnya, tim pencarian korban KMP Refelia II juga diperkuat dengan  delapan orang nelayan dari  Kelompok Kapal Wisata Bangsring Boat. Meski berasal dari nelayan tradisional, merekalah yang menyelam dan menemukan para korban tenggelam tersebut.

Bukan bermaksud meremehkan tim lain, dalam operasi pencarian ini semuanya bersatu dan bahu membahu dalam aksi kemanusiaan mencari korban yang hilang. Namun, tidak salah juga jika mengapresiasi kerja sukses dari  para penyelam Kelompok Kapal  Wisata Bangsring Boat binaan Satpolair Polres Banyuwangi ini.

Saat menjadi salah satu bagian dari tim penyelamat kemarin, para nelayan berjumlah 8 orang yang beranggotakan Irvan selaku ketua kelompok ; Muhaimim, Eko, Abdullah, Iqbal selaku penyelam; Rudi, Sueb dan Imron selaku tim rescue yang stand bay di atas kapal inilah yang menemukan empat korban tenggelam.

Dengan menggunakan alat selam lengkap, sepatu katak buatan, masker  dan 10 tabung gas mereka siapkan khusus untuk mencari korban hilang  KMP Rafelia II kemarin. Mereka juga terlihat menyelam dengan menggunakan gas kompresor.

Yang mengejutkan, mereka ini tidak dibayar  sepeserpun. Secara kemanusiaan  mereka tergerak untuk ikut menjadi bagian dari tim penyelamatan korban dari tenggelamnya KMP Rafelia II di Selat Bali ini. ”Kami tidak di bayar, masak misi kemanusiaan seperti ni kita minta di bayar. Kami ini binaan Satpolair Polres Banyu wangi,” ujar Irvan, ketua kelompok nelayan ini.

Saat melakukan penyelaman kemarin, empat orang nelayan yakni Muhaimim, Eko, Abdullah, dan Iqballah yang intens menceburkan  diri ke dalam air untuk mencari korban di dalam kapal. Tidak hanya alat diving saja yang mereka bawa, senter dan palu juga berada di tangan.

Sebab dua senjata itu sangat penting sekali. Karena kapal ini KMP, tentu kapal ini lebih tertutup dan pastinya di dalam juga sangat gelap maka mereka mengunakan senter saat  menyelam meski siang hari. ”Palu besar kami bawa untuk memecah kaca kapal agar mudah melakukan  evakuasi,” ujar Muhaimin, salah satu tim penyelam.

Muhaimin mengataan, dia dan teman-temannya beserta Satpolair sebelumnya sudah melakukan survei lokasi tenggelamnya kapal  Jumat (4/3), sore hari. Maka dari itu, saat proses pencarian pagi kemarin, mereka tidak kesuliatan  untuk mengetahui lokasi di mana saja yang berpotensi ada korbannya di dalam kapal.

”Sore kemarin (4/3),  kami sudah mengetahui satu korban, tapi memang tidak kami ambil karena arus kecang sore itu. Hari ini (5/3), kami ambil, posisi korban  (Tya Agus) masih sama yakni mengambang di ruang penumpang depan,,” terang Muhaimin.

Dia mengatakan, saat menyelam ke dalam air laut beserta tiga rekan penyelam lainnya. Dia melihat kondisi kapal tidak terlalu terbalik, melainkan miring ke kiri. Kondisi kendaraan yang ada di dalam kapal juga sudah semerawut. Dia juga melihat banyak sekali kendaraan  utamanya truk yang ada di dalam kapal.

”Truk banyak di dalam,  kondisinya semerawut numpuk  gak karuhan Mas,” terang Muhaimim yang saat itu berduet dengan Eko penyelam lainnnya. Kondisi air di dalam laut kemarin juga sangat keruh, dia juga sedikit kesulitan atas keruhnya air laut itu.

Beruntung, mereka membawa senter air yang bisa menembus minimnya jarak panadang di dalam laut. Selain itu, arus kencang juga menjadi kendala mereka, namun karena pengalaman yang mereka miliki, akhirnya semua itu bisa dikuasai.

”Posisi kapal miring menghadap barat daya,” jelas Muhaimin. Tidak hanya menemukan korban Tya Agus di dalam kapal, Muhaimin dan Eko juga yang pertama kali  menemukan dua korban yakni  Masruroh,25 dan anaknya Ramlan yang masih berumur 18 bulan itu  mengambang di kamar mandi.

Saat menemukan dua korban ibu dan anak itu yang posisinya memang berpelukan, dia tidak langsung mengangkat dua korban itu. Dia dan Eko sempat terdiam sejenak untuk  memanjatkan doa karena terharu melihat ibu dan anak korban kapal  tenggelam itu masih berpelukan erat.

”Saya terdiam waktu itu, saya sempat menangis di dalam air tadi. Inget anak saya. Saya sempat memecah kaca  dengan palu besar untuk mengevakuasi  ibu anak itu,” kata Muhaimin.  Setelah berdiam diri di dalam air sejenak, dia langsung mengevakusi dua korban ibu dan anak itu ke atas permukaaan.

Benar  saja, Jawa Pos Radar Banyuwangi  pun melihat langsung dua mayat tersebut, dan memang benar keduanya  masih terlihat berpelukan erat. Para kru penyelamat juga terharu saat melihat ke duanya  masih berpelukan tersebut.

Tim penyelam Bangsring Boat tidak berhenti, mereka terus menyelam. Muhaimin, Eko, Iqbal  dan Abdullah mulai menemukan hasil lagi. Kali ini korban dengan nama Puji Purwono seorang Mualim I yang sebelumnya dikabarkan selamat ternyata ditemukan tewas berada di dalaman jungan  yang ada di atas kapal.

Saat itu penyelam sempat kesulitan untuk melakukan evakuasi karena posisi  Puji berada di dalam ruangan. ”Alhamdulillah berhasil. Korban terkahir pakai kaus merah, kepala agak botak,” ujar Muhaimin. Irvan, ketua kelompok nelayan mengatakan, aksi kemanusiaan yang dilkukan kelompoknya ini bisa dikatakan sebagai bentuk kerja nyata atas apa yang diperoleh  dari pihak Satpolair Polres Banyuwangi dan Dinas Pariwisata Banyuwangi.

Pihaknyan juga siap diperlukan kapan saja jika memang ada musibah seperti ini. Pihaknya juga siap membantu mencari korban atau diperlukan sebagai petugas menyelam untuk keperluan evakuasi KMP Rafelia II nantinya.

”Ini kita biaya sendiri semuanya Mas. Setiap bulan kami diberi arahan sama Pak Kasat Basori Alwi agar menjadi nelayan yang baik dan bermanfaat bagi alam dan manusia lainnya,” pungkasnya.  Letkol Laut (P) Wahyu Endriawan  juga menyelam langsung ke dalam air laut di lokasi tenggelamnya KMP  Rafelia II Sabtu (5/3), kemarin.

Tercatat, di hari pertama pencarian korban  itu Wahyu berada di dalam air juga cukup lumayan lama yakni sekitar  30 menit lebih. Saat itu belum ada  korban yang ditemukan, hanya ada beberapa pe lampung dan satu kotak amal yang ditemukan. ”Ini biar bisa menjadi contoh anggota kami,” ujar  Wahyu. (radar)

Loading...