Dilempar Gadis Perawan, Ritual Balang Apem Dipercaya Memudahkan Jodoh

0
1149

Lalu lalang kendaraan yang melintas di jalan yang ada di tepi sungai Pekalen Sampean itu juga sudah dialihkan, khususnya kendaraan roda empat. Untuk bisa masuk melihat dan mengikuti tradisi balang apem tersebut, warga harus  membayar tiket masuk sebesar Rp10   ribu per orang.

Jika arus lalu lintas tidak disterilkan di sepanjang jalan raya tersebut, dipastikan macet karena banyak nya warga yang berdatangan. Yang paling ditunggu dan menjadi  pusat perhatian pengunjung, adalah  ritual balang apem. Tradisi balang apem itu sudah ada sejak tahun 1967 silam.

Kegiatan itu merupakan pesta rakyat sebagai ucapan dan wujud syukur pada Allah dari masyarakat setempat, karena telah mendapatkan limpahan nikmat berupa aliran air yang melimpah. Aliran sungai yang biasa disebut Pekalen  Sampean itu, mampu memberi penghidupan warga Desa Kebondalem yang sebagian  besar petani.

“Kami bersyukur hasil pertanian  kami melimpah, dan kini kawasan Desa Kebondalem dijadikan sentra penghasil buah naga dan jeruk di Banyuwangi,” ujar Nanang Lesmana, 48, salah satu tokoh masyarakat Desa Kebondalem. Ritual balang apem kali pertama diprakarsai oleh sesepuh adat setempat, Mbah Tukiran, 76, yang hingga kini tetap dituakan oleh masyarakat Dusun Tanjungrejo, Desa Kebondalem, Kecamatan  Bangorejo.

Apem yang dibuat dari campuran  tepung dan santan kelapa, dimasak oleh warga satu rukun warga (RW).  Jumlah apem tersebut mencapai 3.000 buah. Usai dimasak, apem itu dimasukkan dalam plastik dan dibawa ke tempat pelaksanaan  acara.

Lanjutkan Membaca : First | ← Previous | 1 |2 | 3 | ... | Next → | Last

Baca :
Identitas Mayat Hangus Terbakar di Kabat Terungkap