Hendak Berangkat Kerja, Pamitan Sembari Menangis

  • Bagikan
A: Hariyanto menunjukkan foto anak tercintanya Ariani Niken Permatasari saat
ditemui di rumahnya Desa Kabat, kemarin (30/6). Foto : Jawa Pos Radar Banyuwangi

Salah satu korban meninggal akibat kapal tenggelam di Perairan Selat Bali adalah warga Kabat.

Dia adalah Ariani Niken Permatasari. Perempuan berusia 23 tahun itu sehari-harinya bekerja di bagian loket ASDP.

Kepergian Ariani mengundang kesedihan mendalam bagi keluarga maupun teman-temannya.

Isak tangis pasangan suami istri (pasutri) Hariyanto dan Istianah tidak terbendung begitu melihat tubuh anak pertamanya, Ariani Niken Permatasari, terbujur kaku.

Istianah tak henti-hentinya menyeka air mata.

Suara anak tercintanya masih terngiangngiang di telinga.

Ucapan “Aku sayang mama” yang dilontarkan Ariani tak bisa dihapus dari ingatan.

Kenangan terakhir itulah yang kini dirasakan Istianah sebelum anak sulungnya tenggelam bersama KMP Yunicee di Selat Bali, Selasa malam (29/6).

Sehari-harinya Ariani bekerja sebagai petugas loket di penyeberangan Gilimanuk.

Pekerjaan tersebut dijalani sejak Ariani tamat dari SMAN 1 Banyuwangi Setiap harinya,

Ariani berangkat dari rumahnya menuju Pelabuhan Gilimanuk.

Sebelum anaknya meninggal, kedua orang tuanya memiliki firasat aneh.

”Anak saya sempat pamitan sambil menangis, tapi ketika ditanya tidak ada apa-apa,” kenang Hariyanto.

Melihat keanehan tersebut, Hariyanto berusaha membujuk.

Dia minta izin agar diizinkan ikut mengantarkan kerja. Ternyata Ariani menolak.

Dia malah berpesan kepada orang tuanya agar menjaga kedua adik perempuannya.

”Ariani memang mandiri, tidak pernah menyusahkan orang lain. Selalu baik kepada semuanya,” kata Hariyanto.

Begitu sampai di pelabuhan atau pas naik kapal, kakak dari Arina Felisa Kirana itu selalu mengabari ibu dan ayahnya.

Ketika sampai di tempat kerja pun Ariani tak lupa mnegabari orang tuanya.

”Ariani selalu menelepon mamanya,” cetusnya.

Sebelum pulang, Ariani sempat bilang kalau adikadiknya akan dibawa ke dokter. Biasanya kalau pulang ke rumah sekitar pukul 21.00.

Baca :
Misteri Tiket Tahun 1965, Benarkah Seorang Wanita Turun dari Bus Hantu Banyuwangi-Surabaya?

”Dia sempat bilang gajinya akan dibuat untuk adik-adiknya semua (untuk biaya kuliah),” timpal Istianah.

Tepat pukul 18.30, kakak dari Raisa Ratu kembali menelepon orang tuanya sembari menangis. Tidak ada suara apapun.

Ariani hanya bilang tetap sayang sama ayah dan mama.

Wanita berusia 23 tahun meminta mama dan ayahnya menjaga adik-adiknya. ”Itu yang membuat firasat saya semakin kuat.

Saya desak terus ada apa?. Tapi dia tidak menjawab, HP-nya malah dimatikan,” kata Istianah.

Melihat firasat yang kurang baik, pasutri tersebut semakin cemas.

Sampai akhirnya ada kabar KMP Yunicee yang ditumpangi Niken tenggelam.

Begitu mendapatkan informasi tersebut, semua keluarga diminta untuk memastikan kebenarannya.

”Berarti Ariani telepon saat kapal mengalami musibah. Dia tidak mau memberitahukan kondisi sebenarnya,’’ kata Hariyanto.

Selasa malam (29/6), pihak keluarga bisa memastikan kalau Ariani masuk dalam daftar korban meninggal dari insiden kapal tenggelam.

Malam itu juga, jenazah Ariani dibawa pulang ke Kabat.

Paginya jenazah langsung dimakamkan. Di mata keluarganya, Ariani dikenal anak yang baik dan selalu menyapa kepada siapa saja.

”Sejak kecil sudah aktif bermasyarakat. Dia masuk anggota Karang Taruna Desa Kabat,” kata Hariyanto.

Yang membuat hati Hariyanto sedih, tahun depan anaknya akan menikah. ”Tahun depan sebenarnya mau lamaran dan langsung nikah.

Targetnya membantu keluarga untuk menguliahkan adik-adiknya,” tandasnya. (aif)

Sumber : Jawa Pos Radar Banyuwangi

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: