Juara Nasional Pramuka Tidak Lolos

0
964
Kristin Natalia (kiri) danwalimurid lainnya melihat pengumuman PPDB jalur prestasi di SMPN 1 Banyuwangi kemarin (17/6).

BANYUWANGI – Hasil seleksi penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMP jalur offline sudah diumumkan kemarin (17/6). Beberapa orang tua pendaftar kecewa karena anak mereka yang juara nasional Pramuka ternyata tidak lolos.

Kesan berbeda dirasakan Kristin Natalia, 38, ibunda Jessica Maharani, pendaftar asal SDN 4 Penganjuran. Kristin mengaku kecewa mengetahui hasil seleksi PPDB jalur prestasi kemarin. Sebab, Jesica dan empat temannya asal SDN 4 Penganjuran diterima di SMPN 1 Banyuwangi.

“Teman-temannya yang daftar di SMPN lain yakni Devia, Vania dan Erzyllia kabarnya juga tidak lolos,” ujar pegawai KPH Perhutani Banyuwangi itu. Dia mengaku kecewa karena pernah dijanjikan pejabat terkait. Kebetulan, Jessica Maharani dan empat peserta lainnya, Allea, Unzila, Adinda Ayu, dan Anugrah pernah menjadi Juara 1 tingkat nasional lndonesia Scout Challenge (ISC).

Kejuaraan Pramuka ini berlangsung berjenjang dari tingkat kabupaten, tingkat Provinsi Jawa Timur, hingga tingkat nasoonal yang dihelat di Jogjakarta. Atas prestasi mereka menjadi juara nasional, para siswi SDN 4 Penganjuran tersebut diberi hadiah mengikuti camp di Amerika Serikat selama sepekan.

Namun prestasi mereka yang moncet di bidang kepramukaan, ternyata tidak direspons oleh pihak sekolah. Menurut Kristin, saat malam perpisahan memang dikatakan oleh pejabat terkait yang hadir, bahwa prestasi individu lebih diutamakan daripada prestasi beregu. Namun khusus juara nasional Indonesia Scout Challenge tersebut, akan ada pengecualian.

“Katanya juara ISC nasional ini dijamin masuk SMP yang diinginkan karena sudah mengharumkan nama Banyuwangi dan Indonesia di kancah internasional,” ujar Kristin. Yang membuat Kristin kian kecewa, buah hatinya ternyata juga punva bekal prestasi indinidu. Jessica Maharani ternyata juga punya gelar juara Olimpiade Matematika tingkat Karesidenan Besuki.

Loading...

“Berhubung pejabat yang ngomong, ya kami ikuti. Kami sepakat mendaftarkan anak-anak di jalur mandiri ini dengan sertifikat juara nasional ISC ini,” ujar Kristin. Karena itu, Kristin dan orang tua para siswi juara nasional ISC itu awalnya semangat mengurus berkas pendaftaran jalur prestasi.

Sertifikat kejuaraan dan surat rekomendasi dari Dinas Pendidikan juga sudah dilampirkan. Namun hasilnya, ternyata mereka tidak lolos. “Kalau tahu hasilnya zonk begini, ngapain capek-capek. Mending ikut yang jalur online,” pungkas Kristin.

Sayangnya hingga berita ini ditulis tadi malam, pihak panitia PPDB di SMPN 1 Banyuwangi belum berhasil dikonfirmasi. Kepala SMPN 1 Banyuwangi, Samsudin Ali, juga belum berhasil dikontak. Saat wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi menelepon pukul 18.36 tadi malam, ponselnya sedang tidak aktif atau di luar jangkauan.

Meski begitu, secara umum, seperti yang dilakukan panitia PPDB di sekolah lain, proses seleksi sudah dilakukan melalui berbagai tahap. Selain pengecekan berkas pendaftaran, pihak panitia juga telah melakukan uji petik setiap berkas pendaftar.

Selain itu, skor masing-masing pendaftar sudah ditetapkan sesuai surat keputusan Dispendik. Sementara itu, hasil berbeda justru di Kecamatan Rogojampi. Siswa juara ISC dari SDN 1 Rogojampi yang juga merasakan camp di Amerika Serikat, ternyata bisa diterima masuk di SMPN 1 Rogojampi.

“Alhamdulillah, anak saya masuk SMPN 1 Rogojampi dengan bekal juara ISC,” ujar Asik, warga Desa Pengatigan, Kecamatan Rogojampi kemarin. Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi pagi kemarin, suasana SMPN 1 Banyuwangi tampak diramaikan oleh wali maupun peserta.

Mereka datang silih berganti melihat hasil pengumuman jalur mandiri dan jalur prestasi. Karena kuota terbatas, yang diterima hanya sedikit, banyak peserta yang tidak lolos. Sebagian pendaftar merasa lega, sebagian lainnya justru merasa kecewa.

Seperti yang terpantau di SMPN 2 Banyuwangi. Dari 80 pendaftar, yang diterima hanya 25 peserta. Peserta yang lolos diarahkan melakukan daftar ulang dan yang tidak, bisa segera mencabut berkas.

Sejumlah wali peserta yang anaknya tidak lolos berniat mencoba mendaftar lagi di jalur online pada 3 Juli mendatang. Perolehan skor yang kecil bisa dimaklumi karena kalah pada domisili dan KIP.

“Jalur ini memang diperuntukkan bagi tetangga-tetangga sekolah dan mereka yang kurang mampu. Tidak peduli bagaimana nilai rapor maupun UN yang dimiliki peserta,” ujar Winarno, Ketua Panitia PPDB SMPN 2 Banyuwangi kemarin. (radar)

loading...


Kata kunci yang digunakan :