Kisah Mistis Resmob Mengungkap Pembunuhan Satria Dwi Cahya

0
777

Sepeda-motor-Kawasaki-Ninja-warna-merah-molik-Satria-diamankan-di-Mapolres-Banyuwangi.

WAJAH lusuh, lelah, dan ekspresi kurang tidur, menjadi pemandangan yang lumrah  seluruh Unit Reserse Mobile (Resmob) Polres Banyuwangi. Sejak penemuan jasad Satria Dwi Cahya di Sungai Genitri Minggu lalu (24/4), mereka nyaris tidak beristirahat bahkan pulang ke rumah pun tidak sempat.

Di awal penemuan jasad korban yang tanpa identitas. tim Resmob dituntut segera mengungkap dan mengidentifikasi jati diri korban. Beruntung tidak lama, identitas korban berhasil diketahui. Tugas belum tuntas, mereka dituntut secepatnya mengungkap siapa pelaku dan motif yang melatar belakanginya.

Susah-susah gampang. Itulah yang dirasakan. Selain data awal sangat minim, mereka juga dikejar waktu. Biasanya pelacakan pelaku kasus pembunuhan hanya bisa dilakukan kurang dari tiga hari. Lebih dari itu, biasanya semua bukti dan alat pendukung sudah sirna.

Kondisi itulah yang membuat seluruh Unit Resmob bergerak ke segala arah. Lazimnya ilmu pengungkapan kriminal yang dimerima selama  mereka mulai mengumpulkan petunjuk, saksi, dan bukti pendukung lain. Semua dilakukan, termasuk menggunakan pendekatan yang tidak lazim,  kekuatan spiritual.

Metode itu dilakukan semata-mata sebagai pelengkap usaha yang telah dilakukan. Di sisi lain, polisi dihadapkan pada minimnya petunjuk dan saksi. Malam hari usai mayat korban ditemukan di dasar sungai, beberapa anggota tampak menyusuri sungai tempat Satria ditemukan.

Selain melakukan penyisiran, Korps Reserse itu juga menggelar ritual doa bersama. Hal yang sama juga dilakukan AKP Stevie Arnold Rampengan, Kasatreskrim Polres Banyuwangi. Untuk mendukung anak buahnya, secara khusus perwira berdarah Manado itu menggelar doa khusus di Gua Maria. Tujuannya, sama, yakni agar kasus pembunuhan itu segera terungkap.

“Usaha dilakukan dan diiringi doa. Semua kembali kepada Tuhan dan mohon bantuannya,” ujar Stevie. Berkaca dari kasus pembunuan yang pernah terjadi di Banyuwangi, metode yang tidak di sekolah polisi nasional (SPN) itu terbukti ampuh membantu membangun spirit anggota.

Terlebih lagi berdasar kepercayaan yang ada, bahwa dalam kasus pembunuhan. sisi gaib korban senantiasa mendorong polisi segera menuntaskan kasus itu. Entah kebetulan ataukah tidak, itu terjadi saat seluruh anggota Resmob dikumpulkan di Rupa-tama.

Ada beberapa keganjalan yang dirasakan, di antaranya ambruknya kursi kayu yang di duduki salah satu anggota Resmob di ruangan tersebut. Selain itu, saat pembahasan soal kronologis kejadian dan  petunjuk yang diperoleh Polisi dilapangan, banyak lampu ruangan yang tiba-tiba berkedip-kedip. Semua pun merinding.

“Kejadian aneh itu  saat akan mengungkap kasus pembunuhan. Artinya, seolah-olah ada yang mengawasi kita,” ujar salah seorang anggota Resmob.  Tidak lama kemudian lampu kembali normal hingga kegiatan gelar perkara itu rampung.

Ada kesan mistis lagi dalam kasus tersebut. Keberadaan sepeda motor korban juga menjadi sorotan. Diletakkan di halaman belakang bersama barang bukti lain, motor itu sedikit mengusik konsentrasi anggota.

Hampir dua malam di sana, siapa pun yang lewat di sekitar motor itu banyak yang mencium aroma wangi. Posisinya di lokasi gelap membuat bulu kudu tambah merinding. Usaha dan doa itu akhirnya membuahkan hasil. Itu diamini beberapa penyidik yang pernah menangani pembunuhan, keseimbangan usaha dan doa mampu memberikan hasil maksimal.

Polisi bisa melacak keberadaan pelaku dan barang buktinya. Robi berhasil diamankan bersama motor yang diembatnya dari tangan korban. Dia diketahui sebagai pelaku tunggal atas tewasnya Satria Dwi Cahya. Seperti diberitakan sebelumnya, warga Dusun Genitri, Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, digegerkan dengan penemuan mayat laki-laki dalam kondisi tengkurap di bebatuan sungai, persisnya di bawah jembatan rel kereta api (KA).

Saat ditemukan sekitar pukul 05.15, identitas korban tidak diketahui. Mayat berkelamin laki-laki yang terlihat masih muda itu diduga kuat korban pembunuhan. Sebab, di beberapa bagian tubuhnya ditemukan banyak luka bekas sayatan senjata tajam.

Identitas korban baru diketahui sore hari. Korban bernama Satria Dwi Cahya, 19. Itu setelah salah satu saudaranya, Yuyun. warga Dusun Klontang Desa Gendoh, melihat wajah korban melalui foto di Handphond (HP). Korban ditemukan anak-anak yang sedang olahraga melewati perlintasan KA. Saat berjalan di jembatan rel, mereka melihat mayat tengkurap di sekitar bebatuan di sungai. (radar)

Loading...


Kata kunci yang digunakan :