Limbah Jati Belanda Diminati Industri Mebel

0
3602
Birendra menujukkan kursi balita dengan bahan kayu jati Belanda, kemarin (15/10).

GAMBIRAN – Limbah papan kayu jati Belanda bekas palet gudang atau perlengkapan industri, ternyata memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Apalagi, bila itu diproses menjadi mebeler dan kebutuhan rumah tangga. Selama ini, belum banyak yang melirik karena dianggap tidak kuat atau sulit didapat.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Tapi itu tidak bagi, Birendra Wiratama, 32, salah satu perajin mebel kayu asal Desa/Kecamatan Gambiran. Selama ini, dia menggunakan kayu jati Belanda untuk bahan mebel. “Ini mulai pakai jati Belanda sejak enam bulan lalu,” katanya.

Loading...

Permintaan mebeler customized (disesuaikan) dengan bahan baku kayu jati Belanda sedang marak. Pihaknya sering melayani pemesanan untuk kebutuhan kafe dan display di toko-toko pakaian. “Yang sering itu untuk meja kafe dan distro,” ucapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut, dia mendatangkan bahan baku ini dari daerah Pasuruan dan Probolinggo dengan harga mulai Rp 4.000 per batang. Sebenarnya, di Banyuwangi atau daerah Jember itu ada yang menjadi penyedia jati Belanda, tapi harganya agak mahal dan ukurannya belum sebanyak di Pasuruan.

“Di Pasuruan itu barang banyak, tapi ambilnya jauh, kalau di sini (Banyuwangi) mahal,” jelasnya. Secara teknis, jelas dia, kayu jati Belanda atau pinus ini tidak berbeda dengan kayu jenis lain. Hanya saja, kayu ini lebih ringan dan mudah dibentuk dengan permukaan lebih halus dan ringan. “Kalau dibentuk lebih mudah,” jelasnya.

Lanjutkan Membaca : 1 | 2

Baca :
Kebun Kopi Lanang Banyuwangi Kembali Ekspor Robusta ke Italia