Mengarak Simbol-Simbol Doa

0
465
JALAN KAKI: Umat Hindu berbaris melintasi hamparan pasir di kawasan Pantai Boom, Banyuwangi, pagi kemarin (bawah). Para pemuka agama Hindu memegang seorang perempuan muda (kanan).
BANYUWANGI – Ribuan umat Hindu Banyuwangi menggelar upacara Melasti di Pantai Boom, Banyuwangi, kemarin (21/3). Upacara keagamaan tersebut digelar untuk menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1934.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Ribuan orang yang hadir dalam upacara Melasti tersebut sudah memadati Pantai Boom sejak pagi. Mereka datang menggunakan berbagai jenis angkutan. Ada yang menumpang bus, mobil, sepeda motor, dan ada pula yang beramai-ramai menunggang kendaraan bak terbuka alias pikap.

Puji-pujian terus terdengar selama upacara berlangsung. Puji-pujian itu diiringi gamelan baleganjur. Sesaji yang telah dirangkai sedemikian rupa rapi berderet di sebuah tempat khusus tepat di depan para umat duduk. Upacara Melasti kemarin diawali dengan arak-arakan coli yang merupakan simbol-simbol doa kepada alam semesta dan seisinya. Tujuannya, agar semua makhluk berbahagia dan mendapatkan rahmat Tuhan.

Loading...

Upacara Melasti merupakan bentuk penyucian diri Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Bhuana Alit adalah untuk diri sendiri, dan Bhuana Agung untuk seluruh alam semesta. “Terutama lingkungan di sekitar kita. Jadi, kita mengawali dari hal terkecil yang ada di sekeliling kita,” ujar Suminto, sekretaris Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banyuwangi.

Selain melakukan arak-arakan, mereka juga mengambil tirta kamandalu (air suci) di tengah laut. Pengambilan air suci tersebut dimaksudkan untuk melenyapkan kotoran dunia dan penderitaan manusia. “Melasti merupakan tahap pertama dari rangkaian perayaan Nyepi,” cetus Suminto.

Setelah Melasti, lanjut Suminto, rangkaian Nyepi akan dilanjutkan dengan upacara Tawur Kesanga. Biasanya, ritualtersebut dilakukan sambil mengarak ogoh-ogoh, kemudian dibakar. “Ogoh-ogoh adalah simbol angkara murka dalam diri kita, dan membakar ogoh-ogoh adalah wujud keinginan menaklukkan angkara murka tersebut,” jelasnya. (radar)

Lanjutkan Membaca : 1 | 2