Menghantam Cadas, Kepala dan Perut Benjut

0
409
TRAUMA: Lukman bersama ibunya melihat kondisi jembatan yang ambrol di Muncar.

Musibah dialami beberapa siswa SMP Negeri 4 Muncar saat meniti jembatan tidak jauh dari sekolah tersebut. Jembatan gantung itu tibatiba ambrol. Bagaimana perasaan mereka kini?
-SIGIT HARIYADI, Muncar-


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

GANG selebar lima meter di tengah permukiman warga di Dusun Krajan, Desa Kedungringin, Kecamatan Muncar itu tampak lengang pagi kemarin (1/4). Sekitar 50 meter dari mulut gang, terdapat persimpangan. Warga yang hendak berjalan kaki maupun mengendarai  sepeda motor menuju ke arah kiri maupun ke kanan, bisa dengan leluasa meneruskan perjalanannya.

Namun sebaliknya, mereka yang hendak berjalan lurus harus keluar bahu gang yang sudah dilapisi paving stone tersebut. Maklum, di sana terpampang papan peringatan berbahan kertas karton bertuliskan “Maaf, jembatan putus.” Papan peringatan itu dipasang menggunakan tiang bambu yang ditancapkan di gedebok pisang.

Suasana lengang seolah berbalik 180 derajat ketika wartawan koran ini sampai di sekitar lokasi jembatan gantung penghubung Dusun Krajan, Desa Kedungringin dengan Dusun Kawangsari, Desa Wringinputih, yang roboh Jumat sore lalu (30/3) Belasan warga berkerumun di tepi sungai sambil berbincang membahas peristiwa yang membuat puluhan siswa SMP tercebur ke sungai tersebut.

Dengan mimik serius, salah seorang laki-laki mengaku sudah sering memperingatkan para siswa supaya tidak bercanda saat melintas di atas jembatan. Namun sayang, peringatan itu sama sekali tidak dihiraukan oleh para siswa. “Selain melintasi jembatan berbarengan dengan jumlah mencapai puluhan anak. Para siswa, terutama laki-laki, juga kerap kali menarik tali penyangga jembatan untuk menakut-nakuti rekannya,” ujar pria tersebut.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last