sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Suara tambur, simbal, dan gong bertalu-talu memecah malam di halaman Klenteng Hoo Tong Bio, Senin malam (16/2).
Ratusan warga tumpah ruah menyaksikan perayaan pergantian Tahun Baru Imlek ke-2577 Kongzili.
Tak hanya masyarakat keturunan Tionghoa, warga lintas etnis dan agama pun turut larut dalam kemeriahan.
Dentuman musik pengiring barongsai menyatu dengan sorak-sorai penonton yang memadati klenteng tertua di Banyuwangi itu.
Cahaya lampion merah yang menggantung di sepanjang halaman Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) menambah suasana kian semarak.
Tiga barongsai dan dua liang-liong tampil bergantian. Gerakannya lincah dan enerjik, kadang melonjak tinggi lalu meliuk cepat mengikuti irama musik tradisional Tiongkok.
Atraksi akrobatik yang memadukan kekuatan dan ketangkasan itu sukses memancing decak kagum penonton.
Satu per satu umat yang hadir maju mendekat untuk membagikan angpao kepada pemain barongsai.
Tradisi itu diyakini membawa keberuntungan sekaligus bentuk apresiasi atas pertunjukan yang disuguhkan.
Setiap kali angpao diterima, barongsai menari lebih atraktif, membuat suasana semakin riuh.
Dewa Rezeki Jadi Daya Tarik Baru
Di tengah kemeriahan, sosok Dewa Rezeki mendadak muncul di antara kerumunan.
Berbalut jubah merah menyala dan topi kebesaran khas Tiongkok kuno, ia melangkah riang sambil tersenyum lebar. Anak-anak langsung berkerumun, memanggil-manggil dengan penuh antusias.
Sesekali ia menebar “koin emas” berisi cokelat ke arah penonton. Bocah-bocah berlari, melompat, dan tertawa lepas menangkap koin yang beterbangan.
Orang dewasa tak kalah heboh, sibuk mengabadikan momen tersebut lewat kamera ponsel.
Page 2
Ketua TITD Hoo Tong Bio, Sylvia Ekawati, mengatakan ada yang berbeda dalam perayaan Imlek tahun ini. Kehadiran Dewa Rezeki menjadi tambahan atraksi selain barongsai dan liang-liong.
“Ini bukan sekadar hiburan. Dewa Rezeki adalah simbol doa dan harapan. Mendatangkan rezeki untuk tahun ke depan supaya makmur dan melimpah,” ujarnya.
Makna Tahun Kuda Api
Perayaan Imlek 2577 Kongzili tahun ini memasuki Tahun Kuda Api. Dalam filosofi Tionghoa, kuda melambangkan semangat, kecepatan, dan kemajuan. Sementara api menjadi simbol energi, tekad, dan keberanian.
Menurut Sylvia, makna tersebut menjadi refleksi bersama untuk menyambut tahun baru dengan optimisme. Tahun Kuda Api dimaknai sebagai momentum untuk bangkit dan bergerak lebih cepat menuju kehidupan yang lebih baik.
“Kuda itu simbol gerak dan kemajuan. Api melambangkan energi dan semangat. Jadi tahun ini kita sambut dengan keyakinan baru, penuh optimisme,” jelasnya.
Bagi umat yang hadir, keberuntungan bukan sekadar ditunggu, melainkan dirayakan bersama dalam suasana kebersamaan. Senyum, tawa, dan harapan menyatu di bawah cahaya lampion yang berpendar hangat.
Simbol Kerukunan di Banyuwangi
Perayaan Imlek di Klenteng Hoo Tong Bio juga menjadi potret kerukunan antarumat beragama di Banyuwangi.
Warga dari berbagai latar belakang tampak membaur tanpa sekat. Mereka menikmati pertunjukan, berbincang santai, dan saling mengucapkan selamat tahun baru.
Momentum tersebut sekaligus menegaskan bahwa tradisi budaya dapat menjadi ruang perjumpaan lintas komunitas. Perayaan tidak hanya bermakna religius, tetapi juga sosial dan kultural.
Sylvia berharap Tahun Baru Imlek membawa keberkahan bagi semua pihak. Ia mendoakan usaha masyarakat semakin lancar, perekonomian membaik, keluarga diberi kesehatan, dan kehidupan semakin rukun.
“Harapannya semua lebih baik. Indonesia makmur, rakyatnya damai dan rukun, lebih baik dari tahun sebelumnya,” tutupnya.
Di bawah gemerlap lampion dan dentuman tambur yang terus berdentang, perayaan Imlek 2577 Kongzili di Klenteng Hoo Tong Bio pun menjadi malam penuh warna—malam yang menyatukan harapan, budaya, dan kebersamaan dalam satu perayaan meriah. (fre/aif)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Suara tambur, simbal, dan gong bertalu-talu memecah malam di halaman Klenteng Hoo Tong Bio, Senin malam (16/2).
Ratusan warga tumpah ruah menyaksikan perayaan pergantian Tahun Baru Imlek ke-2577 Kongzili.
Tak hanya masyarakat keturunan Tionghoa, warga lintas etnis dan agama pun turut larut dalam kemeriahan.
Dentuman musik pengiring barongsai menyatu dengan sorak-sorai penonton yang memadati klenteng tertua di Banyuwangi itu.
Cahaya lampion merah yang menggantung di sepanjang halaman Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) menambah suasana kian semarak.
Tiga barongsai dan dua liang-liong tampil bergantian. Gerakannya lincah dan enerjik, kadang melonjak tinggi lalu meliuk cepat mengikuti irama musik tradisional Tiongkok.
Atraksi akrobatik yang memadukan kekuatan dan ketangkasan itu sukses memancing decak kagum penonton.
Satu per satu umat yang hadir maju mendekat untuk membagikan angpao kepada pemain barongsai.
Tradisi itu diyakini membawa keberuntungan sekaligus bentuk apresiasi atas pertunjukan yang disuguhkan.
Setiap kali angpao diterima, barongsai menari lebih atraktif, membuat suasana semakin riuh.
Dewa Rezeki Jadi Daya Tarik Baru
Di tengah kemeriahan, sosok Dewa Rezeki mendadak muncul di antara kerumunan.
Berbalut jubah merah menyala dan topi kebesaran khas Tiongkok kuno, ia melangkah riang sambil tersenyum lebar. Anak-anak langsung berkerumun, memanggil-manggil dengan penuh antusias.
Sesekali ia menebar “koin emas” berisi cokelat ke arah penonton. Bocah-bocah berlari, melompat, dan tertawa lepas menangkap koin yang beterbangan.
Orang dewasa tak kalah heboh, sibuk mengabadikan momen tersebut lewat kamera ponsel.







