Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Pendaki Terpeleset di Gunung Rante Banyuwangi, Tim SAR Gabungan Evakuasi Korban Patah Tulang dalam Kondisi Selamat

pendaki-terpeleset-di-gunung-rante-banyuwangi,-tim-sar-gabungan-evakuasi-korban-patah-tulang-dalam-kondisi-selamat
Pendaki Terpeleset di Gunung Rante Banyuwangi, Tim SAR Gabungan Evakuasi Korban Patah Tulang dalam Kondisi Selamat

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap seorang pendaki yang mengalami patah tulang akibat terpeleset di kawasan Gunung Rante, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, berlangsung cepat dan terkoordinasi.

Tim SAR gabungan bergerak sigap mengevakuasi korban dalam kondisi selamat, Selasa (17/2).

Korban diketahui bernama Ahmad Saoqilah, 20, warga Desa Sukosari, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember.

Ia mengalami cedera patah tulang setelah terpeleset di jalur pendakian Gunung Rante yang dikenal memiliki kontur cukup terjal dan licin di sejumlah titik.

Tim SAR gabungan tiba di lokasi kejadian pada pukul 14.23 WIB. Setibanya di lokasi, petugas langsung melakukan koordinasi dengan unsur yang lebih dulu berada di tempat kejadian perkara (TKP).

Proses evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian mengingat medan yang cukup ekstrem dan berisiko.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banyuwangi, I Made Oka Astawa, menyampaikan bahwa sinergi antarunsur menjadi kunci keberhasilan operasi tersebut.

“Begitu menerima laporan, tim segera diberangkatkan. Kami berkoordinasi dengan seluruh potensi SAR yang sudah berada di lokasi untuk mempercepat proses evakuasi. Alhamdulillah korban berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat,” ujarnya.

Korban berhasil dijangkau dan dievakuasi pada pukul 16.15 WIB. Setelah dilakukan penanganan medis dasar di lokasi, Ahmad kemudian dibawa menggunakan ambulans Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi menuju RSUD Blambangan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Medan Terjal Jadi Tantangan

Gunung Rante yang berada di kawasan perbukitan Kabupaten Banyuwangi memiliki jalur dengan karakteristik tanah berbatu dan beberapa titik kemiringan tajam.

Kondisi tersebut semakin berisiko ketika permukaan jalur dalam keadaan lembap atau licin.

Dalam operasi tersebut, tim harus memastikan stabilitas korban saat proses evakuasi agar tidak memperparah cedera.

Proses penurunan korban dilakukan secara bertahap dengan teknik evakuasi darat sesuai standar keselamatan SAR.

Menurut Oka Astawa, koordinasi lintas instansi berjalan efektif sejak awal laporan diterima hingga operasi dinyatakan selesai.


Page 2

“Keselamatan korban adalah prioritas utama. Kami juga memastikan seluruh personel bekerja sesuai prosedur demi menghindari risiko tambahan,” tegasnya.

Unsur Terlibat dalam Operasi SAR

Operasi penyelamatan ini melibatkan berbagai unsur, antara lain Tim Rescue Kansar Banyuwangi, Satgas Gunung Rante, Damkar Banyuwangi, Polsek Licin, BPBD Banyuwangi, Dinas Kesehatan Banyuwangi, Banyuwangi SAR Independen, BKSDA Kawah Ijen, serta masyarakat setempat.

Kolaborasi tersebut mempercepat proses penanganan di lapangan. Pada pukul 16.25 WIB, operasi SAR resmi ditutup setelah korban berhasil dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit. Seluruh unsur yang terlibat kemudian dikembalikan ke satuan masing-masing.

Imbauan untuk Pendaki Gunung

Kansar Banyuwangi mengimbau para pendaki agar selalu mengutamakan keselamatan sebelum dan selama melakukan pendakian.

Persiapan fisik, perlengkapan standar keselamatan, serta pemahaman medan menjadi faktor penting dalam mencegah kecelakaan.

“Kami mengimbau kepada para pendaki agar selalu mempersiapkan fisik dan perlengkapan dengan baik sebelum melakukan pendakian. Jangan memaksakan diri jika kondisi tubuh tidak prima,” pesan Oka Astawa.

Insiden ini menjadi pengingat bahwa aktivitas pendakian gunung memiliki risiko tinggi, terutama di jalur dengan karakteristik terjal seperti Gunung Rante di Banyuwangi.

Respons cepat tim SAR gabungan membuktikan kesiapsiagaan unsur penyelamat dalam menangani kondisi darurat di kawasan wisata alam. (ram/aif)


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap seorang pendaki yang mengalami patah tulang akibat terpeleset di kawasan Gunung Rante, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, berlangsung cepat dan terkoordinasi.

Tim SAR gabungan bergerak sigap mengevakuasi korban dalam kondisi selamat, Selasa (17/2).

Korban diketahui bernama Ahmad Saoqilah, 20, warga Desa Sukosari, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember.

Ia mengalami cedera patah tulang setelah terpeleset di jalur pendakian Gunung Rante yang dikenal memiliki kontur cukup terjal dan licin di sejumlah titik.

Tim SAR gabungan tiba di lokasi kejadian pada pukul 14.23 WIB. Setibanya di lokasi, petugas langsung melakukan koordinasi dengan unsur yang lebih dulu berada di tempat kejadian perkara (TKP).

Proses evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian mengingat medan yang cukup ekstrem dan berisiko.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banyuwangi, I Made Oka Astawa, menyampaikan bahwa sinergi antarunsur menjadi kunci keberhasilan operasi tersebut.

“Begitu menerima laporan, tim segera diberangkatkan. Kami berkoordinasi dengan seluruh potensi SAR yang sudah berada di lokasi untuk mempercepat proses evakuasi. Alhamdulillah korban berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat,” ujarnya.

Korban berhasil dijangkau dan dievakuasi pada pukul 16.15 WIB. Setelah dilakukan penanganan medis dasar di lokasi, Ahmad kemudian dibawa menggunakan ambulans Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi menuju RSUD Blambangan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Medan Terjal Jadi Tantangan

Gunung Rante yang berada di kawasan perbukitan Kabupaten Banyuwangi memiliki jalur dengan karakteristik tanah berbatu dan beberapa titik kemiringan tajam.

Kondisi tersebut semakin berisiko ketika permukaan jalur dalam keadaan lembap atau licin.

Dalam operasi tersebut, tim harus memastikan stabilitas korban saat proses evakuasi agar tidak memperparah cedera.

Proses penurunan korban dilakukan secara bertahap dengan teknik evakuasi darat sesuai standar keselamatan SAR.

Menurut Oka Astawa, koordinasi lintas instansi berjalan efektif sejak awal laporan diterima hingga operasi dinyatakan selesai.