Meski Dilarang, Nelayan Pemburu Benur Masih Marak

0
692
Perahu tradisional milik nelayan dengan alat tangkap benur berjejer di sekitar Pantai Pulau Merah, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, kemarin (9/5).

PESANGGARAN – Meski dilarang, para nelayan yang mencari benur ternyata masih cukup banyak. Perahu tradisional yang dilengkapi alat tangkap benur, berjejer di sekitar Pantai Pulau Merah, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Rabu (9/5/2018) kemarin.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Perburuan benur itu sendiri sudah dilarang oleh pemerintah melalui Peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Permen KKP) nomor 1 tahun 2015, tapi para nelayan masih terus mencari anak lobster tersebut.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Genteng, hampir semua perahu tradisional yang bersandar di pantai Laut Selatan itu, ada alat tangkap benur berupa jaring dan kain yang sudah dimodifikasi. Oleh nelayan, alat tangkap itu disebut pocongan atau jaring kipas.

Loading...

“Seharusnya penangkapan benur dibolehkan, asal tidak dijual ke luar negeri dan harus di budidayakan di dalam negeri. Karena kita juga bisa mengembangkan lobster,” ujar Wagito, 48, nelayan Pantai Pulau Merah, Desa Sumberagung.

Menurut Wagito, mencari benur itu cukup menjanjikan. Dan itu, bisa menambah penghasilan para nelayan. Seekor benur jenis pasir, harganya antara Rp 4.000 hingga Rp 8.000. “Dalam semalam, nelayan bisa menangkap 300 ekor sampai 500 ekor benur,” katanya.

Lanjutkan Membaca : 1 | 2