Pelopor Olahraga, Wakaf Rumah Untuk Persewangi

  • Bagikan

peloporSARDJU Adi Kardono merupakan salah satu pelopor kebangkitan olahraga, khususnya sepak bola di Banyuwangi, pada era tahun 1960-an. Perannya lebih banyak di balik layar. Dedikasi Adi Kardono untuk kemajuan olahraga di Banyuwangi memang tak terbantahkan.

Dia memiliki peran vital dalam perkembangan olahraga, utamanya cabang sepak bola. Kala itu dia menjadi bagian pengurus ikatan Sepakbola Banyuwangi Seluruh Indonesia (lSBlS). Nama itu berubah menjadi Persewangi pada tahun 1970. Rasa cintanya terhadap sepak bola memang besar. Dalam urusan bola, dia sama sekali tidak pernah menghitung untung-rugi.

Dia sudah mengorbankan tenaga, pikiran, dan waktu. Yang paling vital adalah mengenai pendanaan. Semasa hidup, Adi Kardono merupakan sosok penting di balik layar yang berani mengeluarkan duit cukup banyak. Apalagi, pada masa itu tidak ada bantuan dari pemerintah terkait pembinaan olahraga. Yang paling membanggakan adalah dia bekerja tanpa pamrih. Dia jarang sekali muncul ke publik. Sehingga, sosoknya yang dikenal loyal pun jarang diketahui khalayak umum.

Hanya kalangan pencinta olahraga yang mengenal betul dedikasinya di dunia olahraga. Adi Kardono merelakan rumahnya untuk home base Persewangi yang terletak di jalan dn Soetomo, tepatnya depan kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Banyuwangi. Kala itu dia mewakafkan rumahnya itu agar digunakan untuk kepentingan sepak bola. Lantaran tidak diurus, rumah yang dulu milik pribadi itu akhirnya pindah tangan menjadi aset pemerintah daerah.

Meski begitu, masih terselip pesan khusus bahwa kediaman itu tetap bisa digunakan home base Persewangi.  Dalam setiap ada even olahraga. pria berpenampilan low profil itu selalu muncul. Keberadaan dia sebagai penonton menjadi spirit tambahan bagi para pemain yang tengah bertanding. Pada era itu sepak bola Banyuwangi cukup disegani dl level nasional. Bahkan, tim-tim papan atas kewalahan menghadapi tim sepak bola Banyuwangi.

Berkat perannya, tim sepak bola Banyuwangi sejajar dengan Persebaya, PSM Makassar dan Persija. Tim-tim besar itu pernah bermain di Banyuwangi,” ungkap Sunoto Bahtiar, teman dekat Adi Kardono. Dimata Sunoto, semasa hidup, Adi memang dikenal sangat loyal. Dia harus menginspirasi pencinta olahraga di Banyuwangi di masa-masa yang akan datang. “Pengorbanan dia terhadap olahraga luar biasa,” ungkap mantan pengurus Persewang mulai tahun 2001 hingga 2009 itu.

Dia mengaku tahu betul sosok Adi. Menurut dia, pengorbanan Adi sangat berdampak terhadap prestasi sepak bola di Banyuwangi. “sangat sulit mencari pengganti beliau. Beliau sangat loyal dan disegani,” terang pria yang kini berusia 67 tahun ltu.  Yang paling kentara adalah Adi merupakan orang yang paling perhatian terhadap pemain yang berasal dari ekonomi lemah. Dia memberikan berbagai fasilitas kepada pemain dari ekonomi lemah, suka membantu pemain yang miskin terangnya.

Yang membanggakan, meski berdarah Tionghoa, Adi justru lebih dekat dengan warga pribumi. Dia tidak pernah membeda-bedakan suku dan agama. Yang terpenting adalah demi kemajuan olahraga. “Memang orangnya gila olahraga,” Sanjung pria yang pernah menjadi pengurus KONI Banyuwangi itu. Adi Kardono juga menjadi pengurus KONI Banyuwangi pada era tahun 1960. Saat itu selain gila sepak bola, dia juga loyal terhadap bidang olahraga lain, misalnya bulu tangkis.

Dia pun menjadi pengurus Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Banyuwangi.  Dengan kepergian Adi, publik Banyuwangi, terutama pencinta olahraga, jelas merasa kehilangan. Sebab, rasa cintanya terhadap kemajuan olahraga sulit ditandingi.  Adi Kardono meninggal dunia di Rumah Sakit (RS) Siloam Hospitals Surabaya pukul 9.15 ke- marin (5/3). Pria yang dijuluki kamus berjalan perkebunan itu mengembuskan napas terakhir pada usia 85 tahun.

Saat ini jenazah Adi disemayamkan di Adijasa Surabaya hingga jumat ini. Jenazah akan dibawa pulang ke Banyuwangi dan langsung disemayamkan di rumah duka Jalan Ikan Gurami, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi.  Pada Minggu sekitar pukul 09.00 jenazah Adi akan dimakamkan di Pemakaman Kluncing, Kecamatan Giri. Pengusaha yang pernah aktif di PSSI dan PBSI itu mendalami ilmu perkebunan secara otodidak. Bahkan, sampai meninggal dunia Adi yang lahir pada 28 September 1930 di Banyuwangi itu masih aktif membaca buku dan mengikuti perkembangan teknologi perkebunan dari berbagai media. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: