Beranda Ekonomi Penari Gandrung dan Omprog Seblang Bisa Jadi Motif Batik Khas

Penari Gandrung dan Omprog Seblang Bisa Jadi Motif Batik Khas

0
781

penariSepanjang Desember, batik Banyuwangi menjadi pakaian dinas Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Banyuwangi. Kebijakan itu merupakan bentuk apresiasi terhadap batik yang menjadi salah satu kekayaan tradisional khas Banyuwangi. Berikut hasil penelitian ‘Menggali potensi usaha bisnis batik khas Banyuwangi’ yang dilakukan tim dari Akademi Kelautan Banyuwangi (AKABA).


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

KEBANGGAAN terhadap batik Banyuwangi di masyarakat terus ditumbuhkembangkan. Dalam sejarahnya, Banyuwangi merupakan salah satu daerah asal batik Nusantara. Banyak motif asli batik khas Bumi Blambangan. Kini, sudah ada 22 jenis motif batik asli Banyuwangi yang diakui secara nasional. Di antaranya ada motif gajah oling, paras gempal, kangkung setingkes, sembruk cacing, gedegan, ukel, blarak semplah, dan moto pitik.

Batik Banyuwangi berkembang sebagai karya seni rupa pada kain dengan pewarnaan rintang yang menggunakan lilin batik sebagai perintang warna (wax resist technique) yang berbeda dengan batik tekstil. Batik atau mbatik, memberikan  makna filosofis yang dalam, yang berarti ngembat titik. Ngembat berarti membuat dan titik berarti hal-hal yang kecil /rumit. Kekuatan batik terdapat pada desain pola yang menarik, warna yang indah dengan komposisi yang matching.

Sehingga keindahan batik dapat diklasifi kasikan menjadi keindahan visual yang menampilkan performa luar dan keindahan filosofis yang makna simbolik dari desain atau komposisi warnanya. Dalam rentang waktu yang panjang, batik Banyuwangi terus tumbuh. Kini, mbatik menjadi usaha bisnis yang turut memberikan kontribusi terhadap ekonomi Banyuwangi. Seiring pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai warisan tradisi Indonesia, tren penggunaan batik di Banyuwangi semakin meningkat. Sehingga mendorong geliat bisnis batik.

Namun demikian, batik Banyuwangi masih berkembang dalam skala lokal. Pada level nasional, pasaran batik masih didominasi batik asal Jogjakarta, Solo, dan Pekalongan. Batik Banyuwangi belum mendapatkan tempat di hati konsumen batik nusantara. Inilah fakta sekaligus tantangan yang harus dihadapi untuk menghidupi batik Banyuwangi. Banyak aspek yang harus terus didorong, antara lain aspek merk yang lekat pada batik keraton serta harga yang berperan penting dalam kompetisi. Atas dukungan pemerintah daerah, tim peneliti AKABA berupaya mengungkap aspek yang mempengaruhi perilaku konsumen serta strategi yang tepat untuk mengembangkan usaha batik Banyuwangi.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last

error: Uppss.......!