Penipuan Berkedok “Kecelakaan” Marak di Banyuwangi

0
1118

Kasus-Penipuan-Berkedok-Kecelakaan-Marak-di-Banyuwangi

Korbannya Istri Pejabat, Pelaku Minta Transfer Uang

BANYUWANGI – Anda penah terima pesan singkat (SMS) atau telepon dari seseorang yang mengabarkan keluarga anda kecelakaan? Orang tersebut lantas minta transfer uang? Jangan  percaya dengan telepon abal-abal tersebut.

ltu modus penipuan yang cukup lama dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab. Modus penipuan seperti itu sedang marak di Banyanvangi. Salah satu korbannya Anna Yayan, 43. lstri salah satu kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) itu nyaris menjadi korban penipuan setelah ditelepon seseorang yang mengaku guru anaknya.

Penelepon mengabarkan bahwa anak perempuannya harus dioperasi karena terjatuh di sekolah. Beruntung, wanita tersebut langsung menuju sekolah anaknya untuk memastikan bahwa putrinya dalam keadaan baik.

Modus penipuan yang dialami Anna tergolong cukup rapi. Bagaimana tidak, berdasar keterangan Anna, si pelaku berakting cukup baik. Si pelaku bisa menyebutkan nama anaknya dan tempat anaknya sekolah dengan benar.

Kemudian, pelaku juga memberikan nomor telepon beberapa orang, termasuk dokter dan kepala Kimia Farm yang diskenario ikut menangani kecelakaan yang menimpa anaknya.  “Orangnya menghubungi saya pagi hari ke nomor telepon rumah. Ngakunya bernama Pak Lukman, guru SMPN l Banyuwangi. Setelah itu saya diarahkan ke Bu Ratna yang katanya ikut mengantar anak saya ke UGD,” ungkap Anna.

Mendengar kabar itu, awalnya Anna panik. Dia langsung menuju anjungan tunai mandiri (ATM) terdekat usai mendengar kabar bahwa anaknya membutuhkan alat seharga Rp 9 juta untuk dipasang setelah operasi. Beruntung, wanita yaug tinggal di Perum Griya Giri Mulya, Kelurahan Klatak, saat memasukkan kartu ATM lupa nomor pin-nya.

Tak lama suaminya yang saat itu berada di luar kota menghubunginya dan mengatakan bahwa dirinya sudah memeriksa UGD di rumah sakit yang disebut si pelaku. Disana tidak ada pasien yang bernama seperti anak Anna.

Masih tak percaya, Anna langsung mendatangi sekolah putranya di SMPN 1 Banyuwangi. Barulah dia sadar dirinya sedang ditipu. Tak lama kemudian, si pelaku masih meneleponnya sembari memastikan apakah Anna mau mengirim uang.

“Pelaktmya ini rapi sekali caranya. Saya diarahkan ke dokternya dan ketua Kimia Farma yang namanya Alpad Widia Eko Putra. Beberapa kali saya juga dipindah telepon. Mungkin karena panik, saya jadi percaya awalnya. Tetapi, setelah tahu anak saya sehat-sehat saja saya baru tenang,” terang Anna.

Meski nyaris menjadi korban penipuan, Anna mengaku masih belum berniat melapor ke polisi. Dia hanya bersyukur anaknya dalam kondisi sehat-sehat saja. Terkait pelaku yang mengetahui informasi dan data anaknya dan kontak rumahnya, Anna belum bisa memastikan.

Dia hanya mengingat belum lama ini anaknya yang baru diterima sekolah itu membuka tabungan bersama teman-temannya di Bank Jalim.  Di sana si anak menuliskan biodata lengkap, termasuk alamat dan nomor telepon rumahnya.

Anna mengaku belum bisa menebak apakah pelaku tahu seluk-beluk dirinya. Anna teringat beberapa hari lalu anaknya membuat tabungan di Bank Jatim. “Beberapa orang bilang masalah seperti itu bisa diketahui dari awal jika penipuan. T’api saya juga pernah tahu tetangga saya sempat menyepelekan kabar semacam itu tapi ternyata benar. Jadi memang harus diperiksa dulu,” ujarnya.

Direktur RSUD Blambangan, dr. Taufiq Hidayat, yang juga pernah menerima laporan serupa mengatakan kasus itu adalah yang kelima di tahun 2016 yang dia ketahui. Rata-tata si pelaku memang berusaha meyakinkan, termasuk memberikan nomor telepon dokter.

“Kasus ini hanyalah penipuan,” kata Taufik.  Pelaku dipastikan akan meminta sejumlah uang kepada korban supaya proses operasi anaknya lancar. Padahal, menurut spesialis andrologi itu, rumah sakit tidak pernah meminta uang muka untuk kasus operasi apalagi dalam kondisi kritis, apalagi uang jaminan.

Jika pasien memang dalam kondisi memerlukan operasi, tentu akan dilakukan tindakan dulu. Dia mengimbau agar masyarakat langsung menghubungi rumah sakit jika ragu dengan kabar yang ada. “Ini sudah kelima kalinya, bahkan kasus ketiga si korban sudah mentransfer ke pelaku senilai Rp 9 juta. Caranya juga semakin rapi, tapi harus tetap diwaspadai. Kita harap ada cara khusus untuk menghentikan penipuan semacam itu oleh pihak berwajib,” tegasnya.

Sementara itu, terkait data anak Anna sebagai nasabah di tabungan Bank Jatim, Kepala Bank Jalim Cabang Banyuwangi, Hermanto, mengatakan data di perusahaannya cukup aman. “Tapi kalau pelaku bisa masuk ke dalam jaringan kami ya belum tahu lagi. Yang jelas kami memiliki pengamanan dan password di tiap tabungan masing-masing,” ujarnya. (radar)