Persiapan ke Iran, Sekolah Absen Sebulan

0
452
MONCER: Dennis Deviandoni di halaman SMPN 1 Banyuwangi.

Mimpi Dennis Deviandoni tampil di Olimpiade Internasional bakal terpenuhi. Siswa SMPN 1 Banyuwangi itu bergabung bersama 12 orang Indonesia yang akan tampil di International Junior Science Olimpiade (IJSO) di Iran akhir November mendatang.

KECERIAAN mewarnai suasana SMPN 1 Banyuwangi. Tidak hanya siswa, para guru juga kerap mengumbar senyum beberapa hari bela kangan. Meski hal itu menjadi kondisi yang lumrah, tapi keceriaan kali ini berbeda dengan biasa. Sekitar pukul 09.00, sekolah tersebut disibukkan dengan ragam kegiatan yang dilakukan di halaman sekolah.

Hilir-mudik siswa dan guru sangat terasa pagi itu. Selidik punya selidik, keceriaan dan kesibukan pagi itu dipengaruhi keberhasilan salah satu siswa, yakni Dennis Deviandoni. Remaja berkacamata itu dipastikan turut serta dalam ajang Olimpiade bergengsi tingkat internasional di Iran dalam waktu dekat.

Capaian yang sekaligus mencatatkan namanya sebagai satu-satunya siswa Banyuwangi yang memiliki prestasi mengesankan. Kepala SMPN 1 Banyuwangi, Eny Purnamaningrum, rupanya sudah menunggu kedatangan wartawan koran ini. Dennis dan guru pembimbingnya,

Ismiati, juga sudah menunggu wartawan koran ini di ruang kepala sekolah. Keduanya secara silih berganti menceritakan rencana keberangkatan siswa SMPN 1 Banyuwangi itu menuju Iran Meski menyandang status sebagai juara Olimpiade Sains Na sional (OSN) di Manado, upaya Dennis masuk tim inti sains Indonesia ke Iran memang tidak mudah.

Dia harus bersaing dengan 47 siswa dari pen juru tanah air. Selama tiga pekan, remaja kelahiran Nganjuk 13 Juni 1998 itu di karantina untuk mengikuti se leksi. Dalam seleksi tersebut, Dennis di nyatakan masuk dalam skuad inti beranggota 12 orang. Hasil penilaian, dia masuk peringkat 7 dari 12 siswa yang dipastikan ber tolak ke Teheran. Untuk membekali kemampuannya ber kompetisi di Negeri Para Mul lah tersebut, Dennis pun bakal masuk karantina.

Selama dua pekan, dia dijadwalkan akan digembleng materi yang akan dilombakan. Selain itu, dia juga diwajibkan memperdalam ilmu lain, yakni kimia dan biologi. Ismiati beralasan, Olimpiade bu kan terkotak pada satu mata pelajaran. Dennis yang memiliki keunggulan di bidang fisika diharuskan menguasai dua mata pelajaran tambahan tersebut.

Karantina itu akan men jadi jembatan bagi Dennis menuju Olimpiade di Iran. Selama dikarantina, Dennis tidak bisa berinteraksi secara bebas dengan dunia luar. Bahkan, untuk sekadar konsultasi dengan pembimbing, dia hanya menggunakan telepon seluler. Itu dia lakukan untuk mencari solusi atau berkonsultasi terkait soal yang diberikan oleh pem bimbing di mes karantina.

Karantina itu tentu membawa konsekuensi baginya. Dennis dipastikan absen lumayan panjang dari proses belajar di sekolah. Sudah hampir sebulan dia tidak duduk di bangku kelasnya. Enny Purnamaningrum yakin anak didiknya itu bisa mengikuti dan mengejar materi sekolah yang ditinggalkan selama menjalani karantina di Jakarta.

Kecerdasan dan kemampuan memahami materi yang bagus membuat pihak sekolah yakin Dennis bisa mengejar materi yang tertinggal. Keyakinan itu cukup beralasan. Sebagai juara nasional, Dennis memang tergolong siswa yang cerdas. Siswa kelas IX asal Desa Bangsring, Kecamatan Wong sorejo, itu mampu mencatatkan namanya sebagai the best eksperimen dalam OSN tahun ini. (radar)