Produksi Tahu dan Tempenya sampai ke Pulau Dewata

0
305

ROGOJAMPI -Sejak 1950-an Desa Gitik, Kecamatan Rogojampi, yang terkenal de-ngan tahu dan tempenya ma-sih cukup konsisten hingga saat ini. Itu karena tradisi yang terus diturunkan dari ge-nerasi ke generasi, dengan semangat pantang menyerah menghadapi kenyataan hi-dup. Itulah yang dicamkan dalam benak Husnul Hotimah 37, warga Desa Gitik, Keca-matan Rogojampi, salah seo-rang pengusaha kerajinan
tahu dan tempe.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Hotimah mengaku sejak kecil dia sudah diajari orang tuanya Almarhum Sajidi cara mem-buat tahu dan tempe yang baik dan benar. Meski dengan alat yang cukup tradisional, kualitas rasa tahu dan tempe asal Desa Gitik, ini cukup tersohor hingga ke pulau Dewata Bali.

Maklum, sejak dulu tahu dan tempe asal Desa Gitik ini, selain cita rasanya yang gurih dan lezat, kualitas bahannya juga terjaga. “Meski kedelai mahal, kualitas bahan dasar harus tetap terjaga demi kepercayaan pelanggan,” kata Husnul.

Selain melayani kebutuhan di pasar tradisional sekitar Kecamatan Rogojampi, tahu dan tempe made in Gitik juga menjadi penyuplai kebutuhan tahu dan tempe di Pasar Banyuwangi dan sebagian wila-yah di Provinsi Bali. Sayangnya, meski pemilik kerajinan tahu dan tempe ini sudah puluhan tahun menggel-uti usaha pembuatan tahu dan tempe, hanya sekali bantuan dari pemerintah diberikan. Kepala Desa Gitik Rogojampi, Sunardi mengatakan, potensi Desa Gitik dalam bidang UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) pengerajin tahu dan tempe memang luar biasa.

“Satu desa ada belasan pengerajin, semuanya tersebar di empat dusun, yakni Dusun Krajan, Sidomulyo, Sidorejo dan Timurejo,” sebut Sunardi. Selama 13 tahun menjabat sebagai Kepala Desa Gitik, Kecamatan Rogojampi, para pengusaha kerajinan tahu dan tempe di desanya baru sekali mendapatkan bantuan dari pemerintah, yakni pada tahun 2010 silam. Itu pun hanya berupa bantuan kedelai. “Jum-lahnya juga sangat minim,”
kata Sunardi.

Sebagai Kepala Desa, dia terus berupaya mendorong pengu-saha kerajinan tahu dan tempe di desanya tetap eksis dalam melakukan produksi dan pe-masaran. Salah satunya, de-ngan memberikan kemuda-han dalam pengurusan ad-ministrasi pengajuan modal usaha, dan berupaya mem-bantu untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah. “Mereka saat ini butuh ban-tuan modal usaha KUR (Kredit Usaha Rakyat) dengan bunga ringan, dan bantuan alat-alat usaha,” harap Sunardi.

Dengan demikian, diharap-kan tradisi Desa Gitik sebagai desa tahu dan tempe di Keca-matan Rogojampi masih terus tetap eksis dan terjaga. (Radar)

Loading...