Rayakan Imlek, Banyuwangi Gelar Malam Budaya Tionghoa

0
702


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

PEMKAB Banyuwangi menghelat perayaan Tahun Baru Imlek ke-2568 dan malam Budaya Tionghoa di Gelanggang Seni Budaya Blambangan Rabu malam (25/1). Mengenakan baju khas warna merah, ribuan warga Tionghoa dari berbagai wilayah di Banyuwangi  berkumpul bersama.

Mereka bergembira dan bersuka cita. Lampion-lampion yang menjadi ciri khas  perayaan Imlek semakin menambah semarak suasana di sepanjang lokasi  yang berada di jantung kota Banyuwangi. Kesenian khas masyarakat Tionghoa ditampilkan dan berpadu dengan  kesenian khas Suku Using (masyarakat  asli Banyuwangi), seperti musik pengiring angklung, tari pitik-pitikan, hingga  barong.

Ketua Paguyuban Warga Tionghoa  Banyuwangi,  Pek Ing Gwan, mengapresiasi digelarnya acara ini. Keberagaman yang ada di Banyuwangi bisa tetap menghasilkan masyarakat yang harmonis. “Acara ini sangat bagus untuk memupuk rasa saling memahami dan  menghormati. Setiap acara hari besar  yang kami gelar, kami juga selalu melengkapi suguhan dengan mengangkat budaya lokal untuk tampil bersama, sehingga semua hidup dalam harmoni,”   kata Indrawan, sapaan akrab Pek Ing  Gwan.

Bupati Abdullah Azwar Anas yang hadir bersama Wabup Yusuf Widiyatmoko mengatakan, acara ini digelar untuk memupuk kebersamaan di tengah masyarakat. “Tidak hanya kesenian warga Tionghoa yang ditampilkan, namun juga kesenian lokal. Ini benar-benar wujud dari keberagaman di Banyuwangi yang  harus dimaknai sebagai realitas sosial yang mesti dengan saling menghargai dan menghormati, “ujar Anas.

Meski di Banyuwangi banyak etnis,  budaya, dan agama, namun tidak pernah ada polemik. “Banyuwangi adalah daerah aman dan damai sehingga tidak pernah ada konl ik antar umat,” ujarnya. Anas mengatakan, perayaan Imlek ini juga sebagai penguatan bersama warga  Tionghoa dalam membangun Banyuwangi.

Warga Tionghoa dan kelompok  masyarakat lain harus kompak bersama  pemerintah dalam membantu penyelesaian permasalahan kemasyarakatan,  seperti problem siswa putus sekolah  dan warga miskin. ”Jumlah anak yang  putus sekolah tercatat ada lima ribu lebih anak. Sekarang tersisa tinggal 93 anak yang belum teratasi. Capaian iniakan lebih hebat lagi jika warga Tionghoa ikut keroyokan terlibat bersama  pemerintah,” katanya.

Demikian pula untuk pekerjaan rumah lain seperti peningkatan kualitas sanitasi warga, juga akan lebih mudah diselesaikan jika semua bergandengan tangan,  termasuk warga Tionghoa. Suasana jelang Imlek mengingatkan pada sosok  Presiden RI ke 4 KH Abdurrahman Wahid  alias Gus Dur.

Gus Dur merupakan tokoh yang memiliki peran besar memberi ruang bagi upaya saling menghargai dalam perbedaan. Gus Dur pula yang berinisiatif  membuka ruang ekspresi kebudayaan bagi warga Tionghoa.

“Budaya Tionghoa pada masa beliau menjabat presiden di beri ruang yang luas. Beliau adalah tokoh  besar sekaligus ulama yang menjunjung tinggi toleransi. Karena itu, dalam peringatan semacam ini, kita harus berterima kasih kepada Almarhum Gus Dur,” kata Anas. (radar)

Loading...

Baca Juga :