Sengaja Lempar Jumrah Malam Hari

0
147
Jamaah Banyuwangi berangkat Mina bersiap menuju Jamarat untuk melempar Jumrah ula dan wustho kemarin (2-9).

MAKKAH – Usai melaksanakan wukuf di padang Arafah, jamaah calon haji Banyuwangi bergerak menuju Musdalifah untuk mabit. Selanjutnya, jamaah langsung mengambil batu kerikil untuk melaksanakan lempar jumrah.

Jamaah haji asal Banyuwangi, Zuroida lmawan mengatakan, lempar jumrah pada musim haji tahun ini, jamaah tidak perlu repot mencari batu kerikil karena sudah disediakan oleh muassanah.

Untuk menghindari waktu bersamaan saat lontar jumrah, jamaah Banyuwangi mengambil waktu pada malam hari. Jamaah berangkat dari maktab usai salat Magrib. Karena sebagian besar jamaah dari seluruh dunia melaksanakan lontar jumrrah di waktu Dhuha.

Loading...

Pertimbangan lainnya yakni waktu malam hari, kondisi jamarat cenderung lebih sepi dan cuaca tidak terlalu panas seperti sore hari. Karena itu, sebagian besar jamaah Banyuwangi memilih berangkat pada malam hari usai salat Magrib.

“Kemarin berangkat sore hari menuju jamarat, kondisi cuaca sangat panas, banyak jamaah yang tidak kuat,” ujar Zuroidah. Karena panasnya cuaca di Makkah, sebagian jamaah yang sudah tua mengalami heatstroke ditandai dengan kondisi badan jamaah panas akibat dehidrasi. Beberapa jamaah juga nyaris pingsan.

“Hanya saja, kami masih belum tahu kondisi jamarat jika malam hari. Semoga saja tidak berjubel,” harapnya. Jamaah juga diminta terus menjaga kondisi kesehatan masing- masing. Mengingat dua hari ke depan, jamaah masih harus melaksanakan lontar Jumrah wustho dan jumrah aqabah.

Sementara itu, jamaah mulai melaksanakan tahallul awal, yakni mencukur rambut, terutama jamaah laki-laki. Jamaah ramai-ramai mencukur rambut. Tahallul berarti boleh atau diperbolehkan.

Tahallul awal bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu melontar jumrah Aqobah dulu, kemudian tahallul alias mencukur rambut. Atau melaksanakan tawaf ifadah dan sai, lalu mencukur rambut.

Sementara itu, Ketua Kloter 37 Surabaya, Syafaat melaporkan, jika masih banyak jamaah Indonesia yang tersesat di jalan setelah melempar jumrah. Meski dia tidak sedang melontarkan jumrah, dia juga bukan golongan orang yang tersesat.

Namun, beberapa ibu-ibu paro baya menangis karena sejak siang hingga malam hari berputar-putar lantaran belum bertemu hotelnya. Sementara jamaah yang lain harus merasakan tusukan jarum infus untuk bertahan hidup. (radar)

loading...