Terinspirasi Setelah Menonton Talk Show di Televisi

  • Bagikan

cacingRUMAH milik Fransiscus Nitis Budi, 45, berada di ujung kompleks Perumahan Bumi Yosommulyo di Dusun Sumbersuko, Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran. Rumah yang diberi pagar bambu itu ditata cukup artistik.  Di halaman rumah yang tidak terlalu luas itu terdapat bermacam tanaman hias.

Selain itu, ada 30 kotak dari kami berukuran 40 centi meter kali 50 centi meter yang ditata dengan berderet. Deretan kotak itu disiapkan untuk memelihara cacing. “Saya budi daya cacing sekitar tujuh bulan,” ujarnya.

Cacing yang dipelihara itu dikenal dengan cacing farmasi atau Lumbricus rubellus. Cacing itu sangat berbeda dengan cacing yang selama ini ada di sekitar rumah. Budi tidak khawatir cacingnya keluar kandang dan berkeliaran di sekitar rumah. “Hidupnya itu selalu bersama, tidak pernah keluar kandang,” jelasnya.

Untuk mendapatkan cacing jenis itu, Budi mengaku bibitnya dia datangkan dari Malang. Harga bibit cacing itu mencapai Rp 50 ribu perkilogram (Kg). “Bibit cacing satu kilogram itu volumenya tidak sampai satu liter,” kalanya. Untuk memastikan piaraannya itu bisa tumbuh besar dan gemuk. suami Christina Puji Astuti, 37, itu mengaku tidak terlalu kesulitan.

Pakan cacing berasal dari sampah organik rumah tangga. “Pakannya itu ya sisa makanan di dapur dan dedaunan,” jelasnya.  Memanen budi daya cacing ini ternyata relatif cepat. Dalam waktu dua bulan, cacing sudah bisa dipanen. “Agar tidak kehabisan bibit, saat berumur sebulan kita pilah yang belum begitu besar ditempatkan di tempat khusus,” terangnya.

Harga cacing yang dipanen itu ternyata lumayan tinggi. Satu kilogram cacing bisa laku Rp 30 ribu per Kg. panen bisa dilakukan seminggu sekali. Sekali panen bisa mendapatkan 6 Kg cacing. “Cacing yang kita beli dari malang itu berkembang biak dengan cepat,” ungkapnya.  Meski hanya untuk kerja sapingan, tapi budi daya cacing dianggap cukup menjanjikan. Rencananya, usaha itu akan ditularkan pada para tetangga. Selain bernilai ekonomi, budidaya cacing dianggap bisa membantu menyelesaikan permasalahan sampah runah tangga. “Saya berkeinginan lingkungan kami menjadi proyek percontohan,” cetusnya.

Baca :
Berjalan Seberangi Jalan, Tewas Ditabrak Motor

Aktivis gereja yang pernah kuliah di Universitas Sanata Dharma Jakarta itu mengaku mendapat ide budi daya cacing setelah menyaksikan talk show Kick Andy di televisi. Usai menonton, dia menghubungi bintang tamu yang menjadi nara sumber. Sampai saat ini saya masih berkomunikasi dengan narasumber itu,” ungkapnya. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: