Tingkatkan Kualitas Produk Kopi, Banyuwangi Gelar Coffee Processing Festival

0
418
Setiawan Subekti (tengah) memberikan materi pemrosesan kopi di pelatihan Coffee Processing Festival di Rumah Kreatif Banyuwangi

Undang Tester Kopi Dunia, Diikuti 101 Barista Muda


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

BANYUWANGI – Sebanyak 101 barista muda berkumpul untuk mengikuti Coffee  Processing Festival yang diadakan di rumah Kreatif, dijalan Ahmad Yani Nomor 97 Banyuwangi, kemarin (18/10). Festival tersebut diadakan selama tiga hari mulai tanggal 18 hingga 20 Oktober 2017.

Peserta tidak hanya dibekali seni membuat kopi dengan menggunakan alat modern, tapi juga dikenalkan bagaimana proses awal biji kopi yang baru dipetik hingga menjadi bubuk kopi kemudian disuguhkan dalam cangkir serta bisa dinikmati.

Acara dibuka oleh Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko didampingi istri Bupati Ny. Ipuk Fiestiandani Azwar Anas dengan membunyikan alarm penanda dimulainya acara festival. Selanjutnya Yusuf mengolah kopi dipandu dengan barista senior menggunakan mesin roasting dan espresso.

Aroma harum kopi sangat menggugah selera setelah Wabup Yusuf memasukkan biji kopi produk asli Banyuwangi ke dalam mesin roasting. Selanjutnya kopi mulai diproses dalam mesin cspresso. Selang beberapa menit tetes demi tetes kopi mulai keluar dari keran mesin espresso.

Sang wakil Bupati pun menadahi serta menaruh cangkir di bawah keran mesin espresso tersebut. “Kopinya enak sekali dan aromanya sangat khas,” ujar Yusuf.

Pakar kopi dunia Setiawan Subekti juga hadir sebagai juri dalam pelatihan barista tersebut. Sebagai tester kopi internasional lwan-panggilan akrabnya- kerap diundang ke berbagai negara untuk berbagi ilmu maupun menjadi juri pada berbagai kompetisi.

Iwan memiliki kebun kopi sendiri dan menanam jenis kopi Oseng yang memiliki cita rasa khas yang nikmat. “Saya berharap banyak generasi barista muda yang memiliki kreativitas sehingga dapat menciptakan varian rasa baru serta mengembangkan potensi kopi asli Banyuwangi,” ucap Iwan.

Owner Sanggar Genjah Arum Banyuwangi itu menambahkan, tidak hanya barista muda yang diberi pelatihan. Para pekebun kopi juga perlu diberi pelatihan dan sosialisasi agar kopi hasil panennya tetap memiiiki cita rasa dan kualitas yang bagus.

“Para pekebun kopi juga harus diberikan pelatihan. Karena tanaman kopi Banyuwangi ini regenerasinya semakin tua dan produksi kopi semakin menurun, jadi penanaman bibit kopi juga harus lebih diperhatikan lagi agar varian kopi Banyuwangi tetap terjaga,” ungkap Iwan.

Sekarang ini, kopi bukan hanya sekadar pelengkap minuman saja, tetapi kopi saat ini sudah menjadi life style ditengah masyarakat. Banyuwangi memiliki banyak jenis kopi khususnya Robusta yang- berasal dari perkebunan asli Banyuwangi antara lain di Kalibendo, Telemung, Gombengsari, Licin, dan Kaliklatak.

Sedangkan perkebunan kopi Glenmore dan Kalibaru banyak ditanami kopi jenis Arabika, Kopi dari masing-masing perkebunan memiliki aroma dan rasa yang berbeda-beda. “‘Kalau biji kopi dari Telemung dan Gombengsari ciri khas dengan aroma jahe dan rasa susu. Lain lagi biji kopi yang berasal dari Licin memiliki aroma tembakau dengan rasa hampir mirip dengan cokelat,” papar Emir Yusuf, 26, owner Cafe Tani Stasion.

Salah satu peserta Coffee Processing Festival, Siska Madasari mengatakan, jika Festival tersebut sangat berguna sekali bagi para peracik kopi yang ada di seluruh Banyuwangi. Selain bisa bertukar ilmu, peserta juga diberikan wawasan bagaimana cara membuat varian rasa baru kopi yang disukai oleh para penikmat kopi.

“Ternyata proses awal biji kopi sampai menjadi secangkir kopi itu panjang sekali. Dengan adanya festival ini saya jadi tahu kalau pekebun kopi juga merupakan bagian terpenting dari nikmatnya secangkir kopi,” tandas barista wanita dari Jiwa Jawa Resort tersebut. (radar)

Loading...

Baca Juga :