Tradisi Sapi-sapian di Desa Kenjo, Kecamatan Glagah

0
907

tradisiDigelar Lagi setelah Vakum 51 TahunKekayaan tradisi masyarakat Banyuwangi dikenal melimpah. Sepanjang tahun, nyaris ada saja ritual adat yang dijalankan masyarakat Bumi Blambangan. Salah satunya tradisi Sapi-sapian di Desa Kenjo, Kecamatan Glagah.

RITUAL Kebo-keboan, Seblang, dan Barong Ider Bumi, mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Banyuwangi. Namun, ketiga ritual yang masing-masing digelar warga Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh; Desa Olehsari, dan Desa Kemiren, Kecamatan Glagah tersebut hanyalah “segelintir” dari prosesi adat yang mengakar kuat di tengah masyarakat kabupaten berjuluk Sunrise of Java ini.

Kini, satu lagi ritual yang muncul ke permukaan, yakni Sapi-sapian. Tradisi sapi-sapian itu digelar masyarakat Desa Kenjo, Kecamatan Glagah, Sabtu lalu (5/10). Selain merupakan rangkaian upacara bersih desa setempat, Sapi-sapian itu juga digelar dengan tujuan minta hujan. Tak heran, tradisi Sapi-sapian yang sempat mandek selama puluhan tahun itu kembali digalakkan di tengah musim kemarau seperti saat ini.

“Tokoh sentral” dalam pelaksanaan ritual sapi-sapian diperankan oleh dua pria yang didandani layaknya sapi. Dua pria tersebut mengenakan tutup kepala menyerupai kepala sapi. Mereka juga mengenakan kluntung (kalung sapi yang terbuat dari kayu). Tidak hanya itu, dua pemeran sapi itu juga memikul alat bajak sawah. Dua pemeran sapi itu lantas diarak keliling kampung.

Di belakang dua pria yang berdandan ala sapi, itu ada rombongan warga yang membawa hasil bumi. Di belakangnya lagi, sejumlah warga yang lain ikut berkeliling kampung dengan membawa alat-alat pertanian seperti cangkul dan lainlain. Ada pula beberapa warga yang memikul bambu yang kedua ujungnya dipasangi wadah air yang terbuat dari bambu. Iring-iringan rombongan itu dikawal kesenian barong lengkap dengan musik pengiring.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last