Warga Fokus di Pantai, Mahasiswa Punguti yang Mengambang

0
263


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

PENGUNJUNG yang datang ke pantai tentu ingin menikmati pemandangan laut. Ada juga yang ingin bermain air, dan ada pula yang ingin berenang,  bahkan ada yang ingin menikmati pemandangan bawah air. Namun, bila laut di pantai yang  dituju tiba-tiba penuh sampah,  tentu akan sangat mengecewakan.

Pengelola tempat wisata juga lebih kecewa lagi. Seperti yang  terjadi di pantai Grand Watudodol,  Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi.  Hujan yang mengguyur terus-menerus sepekan terakhir itu menyebabkan laut kotor.

Laut yang biasanya jernih tiba-tiba keruh. Banyak pula sampah  mengambang. Semua seolah datang terus-menerus seperti tiada habisnya. Kondisi itu mengundang keprihatinan banyak pihak yang terkait dengan tempat wisata itu. Apalagi,  tempat wisata itu selama ini sering  memberikan penghasilan tambahan untuk warga sekitar.

Bahkan, ada beberapa warga yang mengais rezeki di tempat wisata itu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Oleh karena itu, warga bersama  puluhan mahasiswa membersihkan sampah di Pantai Kelopoan Grand Watudodol Jumat lalu (10/2).

Mereka fokus memungut  sampah yang mengambang di  laut pada jarak empat hingga lima meter dari bibir pantai. Selain itu, ada juga kelompok  nelayan yang fokus membersihkan sampah di pesisir pantai. Kegiatan itu dimulai sejak pukul 8.00.

Mahasiswa yang ikut serta dalam kegiatan bersih sampah laut itu berasal dari tiga program studi (prodi), yaitu biologi, pertanian, dan perikanan. “Masing-masing prodi memiliki tugas sendiri. Mahasiswa jurusan biologi bertugas mencangkok cemara udang. Mahasiswa jurusan pertanian dan perikanan mengambil  sampah di laut dan di darat  bersama warga,” jelas Sulistiyono, koordinator program Kuliah Kerja  Nyata mahasiswa tersebut.

Meskipun sampah telah diambil  sejak pagi, ternyata dua jam kemudian banyak lagi sampah  yang terbawa arus dari arah utara. Sampah-sampah tersebut didominasi sampah plastik.  “Sampah yang kami ambil tidak hanya yang mengambang. Sampah yang berada di dalam air juga kami ambil. Muncul ide membuat jaring khusus sampah khusus laut setelah merasakan  lelahnya memungut sampah satu  per satu,” ujar Sulistiyono.

Untung Aprilianto, mahasiswa  semester lima prodi perikanan, mengaku senang dengan kegiatan seperti itu. Selain dapat berbakti  pada lingkungan dan masyarakat,  dia juga dapat menikmati keindahan terumbu karang di bawah laut. “Sampah yang paling banyak  memang sampah yang mengambang di laut. Sampah tersebut  berbahan plastik, seperti botol  minuman, bungkus makanan ringan, dan sterofoam, bahkan ada juga pembalut,” tandasnya.

Camat Wongsorejo, Sulistiowati,  menuturkan, banyak tempat sampah yang disediakan di lokasi  wisata tepi pantai tersebut. Sayang, kata dia, kesadaran pengunjung masih kurang.  Akibatnya, masih banyak sampah  yang berserakan di pantai.  “Apalagi sekarang musim hujan.  Sampah-sampah yang menumpuk di sungai terbawa hingga ke laut. Jadi, perlu pembersihan setiap  hari menggunakan perahu untuk memaksimalkan pembersihan  sampah,” bebernya.

Aziz, ketua Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas), mengakui sampah kiriman dari sungai semakin banyak di musim hujan. Oleh karena itu, warga pelaku usaha di pesisir rutin memungut sampah di darat dan di laut. “Sampah di sini memang seolah  tidak ada habisnya. Selain karena musim hujan juga karena setiap  hari banyak pengunjung yang datang, apalagi saat weekend. Kami berharap pemerintah daerah mau memberikan bantuan  kapal cepat untuk membersihkan  sampah-sampah di laut supaya lebih efektif dan efisien,” ujarnya.(radar)

Loading...

Baca Juga :