Yang Melanggar Disanksi Membersihkan Tempat Ibadah

0
480

ygDusun Patoman Tengah di Desa Patoman, Kecamatan Rogojampi, merupakan miniatur Bali di Bumi Blambangan. Seperti apa suasana kampung itu saat Hari Raya Nyepi? DUSUN Patoman Tengah berada di bagian barat Desa Patoman. Warga yang tinggal di kampung ter sebut sebagian besar beragama Hindu. Masyarakat dusun tersebut memiliki garis kekerabatan sangat dekat dengan Bali. Mulai nama warga hingga logat bicaranya tidak beda dengan warga Pulau Dewata.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Datang ke Dusun Patoman Tengah seolah ada di Bali. Hampir semua model rumah warga mirip rumah warga Bali, termasuk ada tempat pemujaan dan sesaji (sanggah) di depan rumah. Selama Nyepi, Dusun Patoman Tengah menjadi daerah tertutup. Semua akses menuju kampung itu ditutup untuk umum. Semua rumah milik warga juga tertutup ra pat hingga terkesan seperti tidak berpenghuni.

Jalan di kampung itu ditutup menggunakan bambu penghalang. Sejumlah pecalang (petugas keamanan adat) diturunkan untuk me lakukan pengamanan. “Warga di Dusun Patoman Tengah beragama Hindu, dan sekarang (kemarin, Red) merayakan Nyepi,” terang Ketua Parisada Desa Patoman, Putu Subadrio. Jalan di dusun tersebut ditutup dan dipasangi bambu agar tidak ada warga yang masuk ke kampung Bali tersebut. Jika tidak ditutup, Nyepi yang dilakukan umat Hindu dikhawatirkan akan terganggu.

Loading...

“Tapi tidak seketat di Bali, karena di sekitar kami ini banyak warga muslim,” ujar Putu Subadrio Dalam Nyepi yang dilaksanakan selama 24 jam penuh itu, umat Hindu diharuskan melaksanakan empat pantangan dalam catur brata, yakni amati geni (tidak memasak dan menghidupkan lampu), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (puasa). “Ini harus dilaksanakan,” kata Putu.

Untuk menjaga agar umat Hindu bisa me laksanakan catur brata dengan baik, se banyak sepuluh pecalang disiapkan. Mereka akan melakukan patroli setiap dua jam sekali. “Semua pecalang berkumpul di Balai Gong (gedung kesenian), dan setiap dua jam patroli,” jelasnya. Patroli yang dilakukan pecalang itu bukan hanya untuk menjaga keamanan, mereka juga mengawasi umat Hindu yang se dang melaksanakan catur brata. “Yang melanggar catur brata akan diberi sanksi adat, seperti membersihkan tempat ibadah hingga beberapa hari,” jelasnya.

Lanjutkan Membaca : 1 | 2