PCNU Tolak Pencopotan Lambang NU

0
267
Ratusan warga Cantuk demo di depan Kantor Kecamatan Singojuruh, Rabu (24/5/2017).

Ancam akan Polisikan Pimpinan Unjuk Rasa

SINGOJURUH-Aksi unjuk rasa yang dilakukan warga Desa Cantuk, Kecamatan Singojuruh dengan mendatangi kantor kecamatannya, ternyata berbuntut panjang. Para pengurus NU mulai tingkat ranting, majelis wakil cabang (MWC), hingga cabang, langsung merapatkan barisan dengan menggelar rapat bersama kemarin (25/5).

Dalam rapat di musala Nurul Qodir di Dusun Rampan, Desa Cantuk, itu memutuskan menolak tuntutan warga yang meminta pencopotan lambang Nahdlatul Ulama (NU) yang ada di masjid Baitul Abror, Dusun Cantuk lor, Desa Cantuk, Kecamatan Singojuruh.

Pengurus MWC NU dan PAC Ansor Singojuruh menggelar rapat koordinasi menyikapi rencana pencopotan logo NU di Masjid Baitul Abror, Dusun Cantuk, Kecamatan Singojuruh.

“Demo itu tuntutannya menolak pengunduruan diri anggota BPD dan menolak pembentukan BPD baru, tapi kenapa harus melebar dengan menyinggung pencopotan logo NU,” kecam Ketua PAC GP Ansor Singojuruh, Abdul Robid.

Loading...

Dalam pertemuan bersama itu, para pengurus NU itu menilai penurunan atau pencopotan lambang NU bentuk penghinaan terhadap warga nahdliyin. “Ini sangat menyakitkan bagi warga nahdliyin.” cetus Ketua Tanfidziyah MWC NU Singojuruh, H. Sulaiman.

Selain mengecam dan menolak pencopotan lambang NU di masjid Baitul Abror, Dusun Cantuk Lor, Desa Cantuk, Kecamatan Singojuruh, para pengurus NU yang akan diwakili PCNU Banyuwangi akan melaporkan koordinator aksi unjuk rasa dan yang minta pencopotan lambang NU ke kepolisian. “Ini harus diusut tuntas,” katanya.

Sementara itu, Ketua PCNU Banyuwangi, H. Masykur Ali, mengaku untuk menyelesaikan polemik di Desa Cantuk itu telah memerintahkan sekretaris PCNU Banyuwangi, Guntur Al Badri untuk turun dan memeriksa kondisi dan situasi di Masjid Baitul Abror dan masyarakat di Dusun Cantuk Lor, Desa Cantuk.

“Setelah kami periksa, ternyata logo NU yang dimaksud itu logo NU yang terpasang pada running tex di pintu Masjid,” katanya.  Guntur Al Badri menambahkan, saat dirinya datang ke masjid itu sedang digelar khataman Alquran. Terkait tuntutan penurunan logo NU, itu telah menyakiti warga nahdliyin. “Menurunkan logo NU, sama saja menurunkan martabat warga nahdliyin,” cetusnya.

Gerakan dan pernyataan sikap yang dilakukan warga, jelas dia, sebenarnya tidak ada kaitannya dengan persoalan pemerintahan yang terjadi di Desa Cantuk. Untuk menjaga keamanan di Desa Cantuk, pihaknya akan mengantisipasi dengan menurunkan pasukan Banser untuk menjaga logo NU di masjid Baitul Abror tersebut.

“Sebagai bentuk dukungan moral, besok (hari ini) kami dari PCNU dan banom NU akan melaksanakan salat Jumat di masjid Baitul Abror, katanya. Penanggung jawab aksi warga, H. Hasyim Abdul Muis, 60, saat dikonfirmasi melalui telepon seluler mengaku tidak tahu adanya rencana pencopotan logo NU tersebut. Sebab, itu sudah di luar konteks penyampaian aspirasi masyarakat.

“Konteks aspirasi masyarakat menolak pembubaran BPD, dan menolak pembentukan BPD baru di Desa Cantuk. Kalau ada komentar yang minta pencopotan logo NU di masjid Baitul Abror, saya tidak tahu menahu, karena saat itu saya tidak ikut masuk dan di luar ruangan,” dalihnya.

Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, warga Desa Cantuk, Kecamatan Singojuruh. menggelar aksi dengan mendatangi kantor Kecamatannya (25/5). Dalam aksinya itu, salah satu warga, Hasyim Abdul Muis menyampaikan agar logo NU yang terpasang di masjid Baitul Abror Desa Cantuk di copot.

Alasannya terang dia, warga yang melaksanakan ibadah di masjid itu bukan saja warga NU, akan tetapi juga banyak warga di luar NU. Pernyataan itulah yang menyulut reaksi pengurus NU dari jajaran ranting hingga cabang di Kabupaten Banyuwangi (radar)

loading...


Kata kunci yang digunakan :