Tengah Malam pun Datang untuk Mendoakan Pasien

0
143
Tohari (kiri) didampingi kepala IRD RSUD Blambangan Ahmad Yunus Kurniawan mendoakan Pasien yang meninggal dunia.

Doa merupakan bagian dari ikhtiar. Hal itulah yang rupanya diterapkan pihak RSUD Blambangan dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat. Untuk memaksimalkan metode pengobatan yang dilakukan, rumah sakit pelat merah itu menyediakan jasa layanan doa kepada pasiennya.

NIKLAAS ANDRIES, Banyuwangi

TIRAI di salah satu ruang perawatan di IRD RSUD Blambangan tampak tertutup rapat siang kemarin. Sesekali kain yang digunakan sebagai pemisah dengan pasien lain itu pun tersibak oleh kuatnya embusan kipas angin di dalam ruangan.

Sesekali tampak, seorang pasien berada di ranjang pasien dengan selimut menutup seluruh bagian tubuhnya. Pasien yang menjalani observasi di ruang gawat darurat itu baru saja meninggal dunia.

Sanak keluarganya pun tampak sibuk mempersiapkan pemulangan jenazah menuju rumah duka. Di sela-sela persiapan pemulangan jenazah pasien, ada aktivitas lain yang rupanya dilakukan oleh petugas medis di sana.

Mengenakan seragam batik dengan peci di kepala. Tohari tampak khusyuk mengangkat tangan di samping jenazah. Di sampingnya, ada kepala IRD Ahmad Yunus Kurniawan yang tampak mengikuti gerakan yang dilakukan rekan kerjanya itu. Kurang dari lima menit, keduanya kemudian berlalu meninggalkan ruangan.

‘Ini tadi baru mendoakan pasien yang meninggal dunia. Semoga khusnul khotimah dan keluarga diberikan ketabahan dan kesabaran,” ujar Tohari. Tohari merupakan pegawai RSUD Blambangan. Dia bertugas dan ngepos di bagian medical record.

Loading...

Dalam struktur rumah sakit lainnya, dia diamanatkan sebagai bagian kerohanian. Tugasnya memberikan layanan doa bagi kesembuhan pasien yang dirawat di rumah sakit milik pemerintah tersebut.

Layanan doa yang diberikan sepenuhnya diserahkan sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing pasien. Tujuan pemberian layanan doa ini dimaksudkan untuk membantu proses kesembuhan pasien itu sendiri.

Kebetulan, Tohari menjadi petugas pemberian layanan doa khusus pasien beragama islam. Dan, tugas mendoakan pasien sudah hampir setahun dijalani oleh Tohari. Layanan doa ini biasanya diberikan kepada pasien sekitar pukul 10.00. Namun, dirinya tidak menutup kemungkinan ada yang meminta pemberian doa ini di luar jam dinasnya.

“Kadang ada yang minta malam bahkan tengah malam. Mau nggak mau ya harus datang,” ujarnya. Layanan doa ini biasanya diterima atas permintaan penanggung jawab ruangan. Dan tentunya, doa ini awalnya datang dari permintaan keluarga pasien. Kebanyakan yang meminta layanan doa ini diberikan untuk pasien dengan kategori penyakit berlabel kritis.

Doa diberikan dalam kondisi pasien sedang sadar maupun koma sekalipun. Bahkan, jika ada pasien yang menghadapi sakaratul maut, Tohari wajib berada di sisinya. Tidak jarang pula, dia pun ikut serta dalam prosesi mengurus jenazah hingga sampai ke tangan keluarga.

“Itu kalau ada permintaan dari kamar mayat. Kadang memandikan sampai mensalati juga,” bebernya. Dalam hal ini, Tohari pun turut menyertakan orang tua dalam pemberian layanan doa. Tidak sekadar doa, pria ini juga memberikan tausiah kepada keluarga pasien.

Intinya agar mereka diberikan kesabaran dan keyakinan bahwa kesembuhan datangnya dari Sang Maha Pencipta. “Diberikan sedikit pencerahan agar keluarga juga diberikan kesabaran dan turut mendoakan pasien,” ujarnya.

Doa yang diberikan pun bisa secara satu per satu pasien di dalam ruang perawatan. Bisa juga diberikan secara jamak kepada seluruh pasien yang ada di dalam ruangan. Inti doa tentunya agar pasien diberikan kesembuhan dari penyakitnya.

Tohari menyadari bahwa doa merupakan bagian dari ikhtiar pasien kepada Tuhan. Dia pun ikut senang, saat pasien yang sempat dibacakan doa itu sembuh dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Saat bertemu pasien dan keluarganya di luar rumah sakit, banyak yang mengucapkan terima kasih atas bantuan doa yang diberikan. (radar)

loading...