Batik Lokal Jadi Seragam Sekolah

0
1166
BERKEMBANG: Batik Srikandi ikut pameran HUT Jatim ke-67 di Disperindagtam, beberapa waktu lalu. Buhani berharap batik jadi seragam sekolah.

Usulan Pengusaha Batik Banyuwangi
BANYUWANGI-Usaha batik asli Banyuwangi kini telah berkembang pesat. Sejumlah home industry batik tumbuh semakin besar. Seperti Batik Srikandi di Desa Badean, Kecamatan Kabat; Batik Virdes di Dusun Simbar, Desa Tampo, Kecamatan Cluring, dan Batik Pringgokusumo di Kabat.

Produksinya pun meningkat banyak. Nah, untuk semakin mengembangkan pemasaran dan penyerapan produk itu, pengusaha batik mendesak pemerintah turut membantu. Caranya dengan mengeluarkan kebijakan seragam batik lokal bagi instansi, perkantoran atau sekolah.

Kami berharap, batik Banyuwangi bisa dijadikan seragam, baik sekolah maupun perkantoran,” harap Buhani, pengusaha Batik Srikandi, kemarin. Ditambahkan, selama ini seragam sekolah yang sering dipakai adalah kain kotak-kotak. Nah, wanita yang akrab disapa Hani itu berharap, seragam sekolah diganti batik Banyuwangi saja.

Sebab, langkah itu akan mengangkat perekonomian. Dengan seluruh siswa mengenakan batik Banyuwangi, maka home industry batik bakal terserap produksinya dan bisa berkembang pesat. “Para pekerja maupun pembatik akan bisa terus bekerja dan mendapatkan upah kalau produksi batik terus berjalan dan terserap pasar,” cetus mahasiswa Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi itu.

Hani menegaskan, selama batik Banyuwangi dipakai seragam, maka batik dari daerah lain jangan dilayani. Selama ini, sesal dia, masih ada yang melayani tawaran batik dari daerah lain untuk seragam. Padahal di beberapa daerah, seperti Kabat, sudah ada sentra batik khas lokal. “Saya senang batik Banyuwangi dipakai selama peringatan Hari Jadi Banyuwangi,” ujarnya.

Selama Hari Jadi Banyuwangi, lanjut Hani, omzet batiknya meningkat tajam. Bahkan udeng batik ludes diburu pembeli. Maklum, saat peringatan hari jadi tahun lalu, bupati menginstruksikan pegawai Pemkab untuk mengenakan baju batik Banyuwangi lengkap dengan udeng selama sebulan penuh. “Alhamdulillah, ratusan udeng laku. Begitu juga dengan kain batik, banyak yang memborong,” ungkapnya.

Saat ini, Batik Srikandi telah berkembang pesat. Dalam sehari bisa memproduksi 100 potong kain batik. Pemasarannya sudah merambah Surabaya dan Ponorogo. Tidak sedikit warga yang memborong untuk dibawa ke luar Pulau Jawa, bahkan untuk oleh-oleh keluar negeri. “Karyawan saya ada 19 perempuan yang tukang canting dan sepuluh laki-laki,” beber Hani. (radar)

Baca :
Banyuwangi Izinkan Pasar Takjil Ramadan, Asal