Diarak, Lalu Dibakar

0
592

BANGOREJO-Persembahyangan Tawur Agung Kesanga oleh umat Hindu diharapkan dapat membangun kualitas bakti. Begitu juga semangat toleransi, dalam rangka mewujudkan harmonisasi.

Pernyataan itu disampaikan Eko Prastyo, Bagian Informasi dan Komunikasi Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Jawa Timur kepada RaBa, Kamis malam (22/3). Di sela-sela persembahyangan Tawur Agung Kesanga, Eko
menjelaskan bahwa, harmonisasi antara berbagai elemen menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih berguna, bermakna, dan penuh arti.

Kata Eko, setiap upacara per sembah yangan Tawur Agung Kesanga selalu ditandai dengan hadirnya ogohogoh yang merupakan simbolisasi dari makhluk-makhluk dunia astral atau dunia lain. Setelah pecaruan, dilanjutkan arak-arakan ogoh-ogoh, kemudian sebagai bagian akhir atau puncak persembahyangan, dilakukan pengerupukan.

Dalam pengerupukan itu, ogohogoh dibakar. “Hal ini melambangkan bahwa seluruh elemen, termasuk ogoh-ogoh sebagai makhluk astral diberikan hak-haknya setelah menjaga empat penjuru bumi,” terangnya. (radar)