BANYUWANGI, KOMPAS.com – Harwin Arianto, seorang pemuda asal Desa Kedaleman, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur, berbagi pengalamannya keliling dunia berbekal keahliannya di bidang pijat atletik atau sport massage.
Pria 31 tahun tersebut saat ini tercatat sebagai pemijat di Tim Nasional (Timnas) Indonesia Cycling Federation (ICF) dan telah bergabung organisasi sepeda Indonesia tersebut sejak tahun 2024.
Sebagai masseur atau tukang pijat di ICF, selain bekerja sebagai tukang pijat, ia juga bertanggung jawab menyiapkan program pemulihan bagi para atlet bekerja sama dengan pelatih dan tim teknis.
Baca juga: Mengintip Pos Pelayanan Jembatan Suramadu, Sediakan Makan-Minum Gratis hingga Kursi Pijat
Kehadiran Harwin sangat penting dalam tiap pertandingan yang diikuti oleh tim nasional balap sepeda Indonesia, baik kejuaraan yang digelar di dalam maupun luar negeri.
Sejak bergabung dengan ICF, ia telah menyaksikan berbagai kejuaraan untuk mendampingi para atlet, di antaranya kejuaraan yang diadakan di Malaysia, Jepang, Hongkong, Thailand, Italia, Spanyol, Perancis, hingga Amerika Serikat.
Baca juga: Ada Wisata Perahu Kano di Madiun, Sensasi Keliling Dunia di Sungai Sumber Umis
“Itu adalah kejuaraan-kejuaraannya UCI (Union Cycliste Internationale), juga termasuk Olimpade,” terang Harwin, Selasa (20/1/2026).
Harwin mengatakan, awal ia mengenal pijat atletik saat kuliah di Jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 2014. Di sana, ia aktif mempelajari massage di unit kegiatan mahasiswa.
Ia menyerap banyak ilmu tentang pijat atletik. Dan beruntung, ilmu pijat atletik saat itu banyak diperlukan, sehingga Harwin sering mendapatkan pesanan untuk memijat ketika ada event olahraga di Surabaya.
“Hasilnya lumayan. Saya pernah sebulan dapat Rp 3 juta. Bagi saya nilai itu besar. Biaya kuliah saya saja per semester Rp 3,5 juta,” kenangnya.
Berhasil meraih pendapatan dari pijat, Harwin terus mendalami ilmu pijat atletik dengan mencari guru-guru baru di bidang sport massage, termasuk mengikuti kursus dan sertifikasi khusus untuk masseur.
Kini, Harwin kembali mengenyam pendidikan formal strata dua atau S2 Jurusan Ilmu Keolahragaan di Universitas Negeri Yogyakarta. Ia berharap ilmunya akan lebih lengkap.
“Karena ilmu kan selalu berkembang. Saya pribadi ingin terus memperbarui ilmu. Selain kursus, sekolah lagi, dan mengambil sertifikasi, dan belajar dari para dokter, saya juga usahakan selalu membaca jurnal dan buku-buku terbaru,” tandasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang






