Kisah Pilu Masriyah, TKW asal Cluring yang Meninggal di Yunani

0
542

empatthnEmpat Tahun Hidup di Penjara Gara-gara Dituduh Mencuri


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Satu lagi warga Banyuwangi yang bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri meninggal dunia. Dia adalah Masriyah, 33, warga Dusun/Desa Tampo, Kecamatan Cluring. TKW yang bekerja di Yunani itu meninggal di Brebes, Jawa Timur. Inilah kisahnya.

MASRIYAH bekerja di Yunani dipicu masalah ekonomi. Dia ingin membahagiakan keluarganya. Sayang, keinginan mendulang uang di negeri orang justru berbuah petaka. Ibu satu anak itu meninggal dunia saat perjalanan pulang ke  kampung ha laman. Pahlawan devisa itu berangkat ke Yunani pada Maret 2008. Sejak saat itu, perempuan kelahiran 2 Juni 1980 itu meninggalkan suami dan putri semata wayangnya yang masih sangat belia. Rencananya, dia bekerja di luar negeri selama lima ta hun.

Namun, hanya tiga bulan bekerja menjadi pembantu rumah tangga, dia sudah berurusan dengan hukum. Ibu kandung Nasiyah itu dituduh mencuri jam tangan majikannya. Atas kejadian itu, Masriyah diganjar kurungan lebih dari empat tahun. Ketika masih bekerja, istri Suko Prabowo, 34, itu pernah mengirim sejumlah uang. Terhitung, tiga kali Masriyah mentransfer uang ke keluarganya. Nilai total uang yang diterima keluarga mencapai Rp 45 juta. Uang tersebut dikirim tiga kali.

Uang hasil menguras keringat itu dikirim setiap Masriyah menerima gaji. ‘’Kirim tiga kali masing-masing Rp 15 juta Setelah itu, tidak kirim uang karena tidak kerja,” tutur Hamdani, kakak Masriyah, kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin. Masriyah memang tidak bisa kirim uang. Se bab, dia harus menjalani hukuman usai di vonis bersalah oleh hakim di Yunani. Sejak saat itu, Masriyah sulit dihubungi. ‘’Adik saya memang bisa telepon. Tapi ja rang-jarang dan tidak bisa lama-lama,” kata Hamdani.

Keterangan yang diterima keluarga, Masriyah ngotot tidak melakukan pencurian se perti yang dituduhkan. Dia menganggap tu duhan majikan tersebut tidak benar. “Adik saya bilang tidak pernah mencuri, tapi tetap dihukum,’ ujar Hamdani. Atas penjelasan Masriyah, Hamdani mengaku bingung dengan Kedubes RI di Yu nani. Sebab, tidak ada pendampingan sama sekali terhadap TKW yang tersangkut ma salah hukum. ‘’Mana pendampingan pemerintah. Sampai adik saya dipenjara dan pulang tinggal jenazah, pendampingan pemerintah tidak ada,” tandasnya penuh emosi.

Yang membuat keluarga bertanya-tanya adalah terkait kepulangan Masriyah. Keterangan dokter dan keterangan polisi yang diterima melalui surat, tidak sama. Ke luarga pun menganggap ada yang tidak beres mengenai kematian Masriyah. ‘’Waktu masih ada di Bandara Soekarno- Hatta, dia telepon. Tapi, mau dijemput dia tidak mau. Itu saja, percakapan lewat te lepon itu sangat sebentar. Tiba-tiba HP dimatikan,” jelasnya. Belum diketahui apa alasan Masriyah menolak dijemput keluarga.

Padahal, keluarga sudah memberikan penjelasan bahwa lebih baik dijemput. ‘’Tahu-tahu ada kabar adik saya meninggal karena sa kit. Sakit apa, sampai sekarang belum ada jawaban,” kata Hamdani. Keterangan dari dokter Bhakti Asih, Kabupeten Brebes, Jawa Tengah, juga masih nol. Artinya, tim medis tidak mengetahui pe nyebab kematian Masriyah. “Kematian adik saya ini banyak yang janggal,” tuding nya.

Usai dilaporkan meninggal dunia, keluarga minta keterangan otopsi dari dokter. Sampai jenazah tiba di rumah duka se kitar pukul 23.30 Jumat lalu (1/3), surat ke terangan yang diterima keluarga hanya su rat laporan polisi, keterangan dokter, dan foto-foto. ‘’Wajah adik saya lebam dan ada ber cak darah. Itu yang mengganjal,” tegas Hamdani. Lantaran banyak kejanggalan, keluarga me nuntut pemerintah bertanggung jawab atas kematian Masriyah.

Untuk itu, dia bersama suami Masriyah nekat terbang ke Jakarta untuk menuntut pertanggungjawaban pemerintah. ‘’Saya se karang ada di Jakarta mau menanyakan ma salah ini,” jelas Hamdani melalui ponselnya kemarin sore. Menurut dia, persoalan itu harus segera klir. Sebab, Masriyah meninggalkan putri yang masih kecil. Tentu saja, biaya hidup dan biaya pendidikan si anak tersebut tidak sedikit. ‘’Kasihan keponakan saya itu menangis terus. Doakan ya agar usaha saya berhasil,” pinta Hamdani. (radar)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :