Lagi, Moukwelle Surati FIFA

0
323
BELUM DIBAYAR: Moukwelle ingin pulang ke Prancis, tapi tidak memiliki uang.

Tuntut Kejelasan Hak dari Persewangi
BANYUWANGI – Nasib Persewangi benar-benar di ujung tanduk. Persoalan klasik terkait macetnya pembayaran gaji dan kontrak pemain bakal sampai ke meja otoritas sepak bola internasional, FIFA, untuk kali kedua.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Sebab, salah satu pilar asing Persewangi, Moukwelle Sylvian, kembali melaporkan Laskar Blambangan  ke induk sepak bola sejagat tersebut. Langkah yang dilakukan pemain berkebangsaan Prancis itu didasari atas buntunya negosiasi pembayaran gaji dan kontrak yang dia lakukan terhadap manajemen.

Upaya itu adalah upaya kedua yang diupayakan gelandang bertahan itu untuk mendapatkan haknya di Persewangi. Moukwelle menuturkan, upaya mendapatkan haknya sudah sering dia lakukan, di antaranya menemui langsung manajemen untuk membahas sisa gaji dan kontraknya yang belum dibayar.

Sudah sering ketemu tapi tidak ada solusi,” katanya. Tidak adanya kejelasan nasib  tulah yang membuatnya mengirim surat kepada FIFA. Surat balasan dari organisasi pimpinan Joseph Bletter itu, manajemen diminta merampungkan persoalan keuangan itu hingga 27 Agustus lalu. Nyatanya, hingga kini solusi terkait persoalan keuangan itu belum jelas ujung pangkalnya.

Pendekatan melalui lobi sudah dilakukan Moukwelle terhadap manajemen. Namun, hanya pepesan kosong yang dia peroleh. Jangankan kepastian pembayaran, niat menyelesaikan persoalan saja dia rasakan tidak ada sama sekali. “Saya putuskan untuk menyurati lagi FIFA. Saya lihat tidak ada niat untuk menyelesaikan masalah ini. Saya ingin pulang ke Prancis,” ujarnya. Di Persewangi, Moukwelle seharusnya dibayar Rp 297 juta per musim.

Namun, sejauh ini dia baru menerima dua kali gaji. Per bulan dia menerima gaji dari Rp 27,5 juta. Laporan Moukwelle ke FIFA itu patut menjadi perhatian. Bila tidak ada jalan keluar, bukan mustahil sanksi dari otoritas sepak bola sejagat itu akan menghampiri Persewangi. Imbas buruknya, Persewangi dinyatakan bangkrut dan dilempar ke  kasta terendah kompetisi sepak bola Indonesia alias Divisi III. (radar)

Loading...