Laris Manis, Sehari Bisa Jual 300 Liter

0
151

seorang-penjual-sedang-mengisikan-bbm-ke-tangki-sepeda-motor-di-sebuah-pertamini-yang-beralamat-di-jalan-mh-thamrin-banyuwangi

Pelaku usaha Pertamini bukan hanya ditemukan di daerah perkotaan, tapi justru marak di kawasan pelosok desa. Di wilayah Songgon, misalnya. Di sana ada beberapa titik khusus yang membuka usaha Pertamini, antara lain di Desa Sragi, Desa Sumberbulu, dan Desa  Songgon.

Selama ini, usaha mereka berjualan BBM tersebut cukup lancar. Tidak perlu membutuhkan tenaga khusus untuk berjualan BBM tersebut. Ibu rumah tangga sekalipun bisa mengoperasikan penjualan BBM, layaknya pelayan di Pertamina.

Omzet yang didapat pun menggiurkan. Meskipun, untuk mengembalikan modal  masih membutuhkan waktu cukup lama. Itu karena mesin Pertamini juga tergolong cukup mahal. Salah satu pelaku usaha Pertamini, Jumiati, mengatakan bisnis membuka Pertamini dimulai beberapa bulan  lalu.  Dalam sehari, terang dia, BBM  yang terjual mencapai ratusan  liter.

‘’Kadang sehari bisa 300 liter,’’ ujar warga Dusun Sragi Tengah, Desa Sragi, Kecamatan  Songgon, itu.  BBM tersebut dibeli dari SPBU  terdekat. Selama ini pasokan  BBM di Pertamini dari SPBU  Karangsari, Kecamatan Sempu. ‘’Tidak pernah beli dimana- mana,” terang ibu satu ini.

Pertamini milik Jumiati itu dibeli dengan harga yang cukup mahal. Kata dia, harga mesin Pertamini itu dibeli dengan harga Rp 24 juta. ‘’Kalau dua mesin, lebih mahal. Ini sementara hanya menjual Pertamax saja. Kalau dua mesin bisa dua kali lipatnya,’’ tukasnya.

Jawa Pos Radar Banyuwangi melakukan investigasi terkait peredaran Pertamini di Bumi  Blambangan. Pelaku usaha Pertamini ternyata bukan hanya membeli di satu SPBU. Seperti siang kemarin sebuah mobil Mitsubishi Colt T 120 SS membawa banyak jeriken.

Mobil  bernopol P 8055 VG itu awalnya mengisi jeriken di SPBU Pengatigan, Kecamatan Rogojampi. BBM yang diisi jenis pertamax. Kemudian, mobil itu bergeser  ke SPBU lain. Mobil warna hitam  itu ternyata ke SPBU Alas Malang, Kecamatan Singojuruh.

Jeriken yang ada di atas mobil  itu diisi BBM jenis pertalite. Usai mengisi, mobil tersebut tancap gas. Memang benar, pembelian BBM dengan jumlah besar itu akan kembali dijual dengan Pertamini, tepatnya di Desa  Padang, Kecamatan Singojuruh.

Keberadaan Pertamini di satu sisi  memang sangat membantu warga.  Terutama bagi warga yang berada  di pelosok desa. Jika memerlukan  BBM tidak perlu lagi jauh-jauh  menuju SPBU, warga bisa melakukan  pengisian BBM di Pertamini di  rumah-rumah warga.

Di sisi lain, Pertamini dirasa  sangat berbahaya. BBM yang ditandon oleh pemilik usaha itu  tentu sangat berbahaya karena  bisa meledak jika terkena percikan  api. Faktor keamanan (safety)  yang tentu jauh dari standar menjadi alasan mengapa keberadaan Pertamini sangat mengkhawatirkan.

Selain itu, akurasi takaran BBM yang dijual kepada konsumen juga perlu dipertanyakan. Area Manager Communication And Relation Pertamina Marketing Operation  Region V, Heppy Wulansari, saat dikonfirmasi menegaskan Pertamini tidak ada kaitannya sama sekali dengan Pertamina.

Mengenai diperbolehkan atau tidaknya Pertamini berdiri, Pertamina tidak memiliki kapasitas menentukan hal tersebut. ”Kami bukanlah regulator usaha migas, sehingga kami tidak dalam kapasitas menyatakan Pertamini diperbolehkan ataukah tidak,” kata Heppy.

Ditanya terkait kualitas BBM dan akurasi takaran, Heppy menegaskan mengetahui hal itu.  Sebab, yang menentukan kualitas BBM yang dijual konsumen bukan pihak Pertamina. ”Kami tidak tahu kualitas dan takarannya bagaimana. Tapi kalau kualitas di SPBU resmi sudah pasti dijamin  oleh Pertamina,” pungkasnya.

Sementara itu, meski dirasa bahaya, usaha Pertamini sangat marak saat ini. Selain lebih praktis dibandingkan menggunakan botol, Pertamini bisa dibilang lebih mudah. ”Memang lebih enak pakai Pertamini, tapi saya pikir bahaya karena tangki bensinnya kan di luar rumah. Takutnya ada percikan api malah  meledak nanti,” kata Ibnul  Mubarok, salah satu pemilik kios bensin botolan di Lingkungan  Tangkong, Kelurahan Singotrunan.

Dia mengatakan, dulu pernah ingin membeli alat Pertamini. Namun, niat itu diurungkan lantaran banyak pertimbangan, salah satunya adalah pertimbangan keamanan dan keselamatan. ”Saya dulu mau beli. Belinya di Jakarta  secara online. Dulu saya mau pesan  harganya kisaran Rp 10 juta untuk satu kios Pertamini,” jelas Ibnul.  (radar)

Loading...