Manfaatkan Internet untuk Mencari Literatur Tambahan

0
391
Endah Kusuma Wardani

Start apik sudah dilakukan Endah Kusuma Wardani, 23, untuk mewujudkan cita-cita menjadi seorang bidan. Dara yang beralamat di jalan Ikan Kerapu 37, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, ini sukses meraih predikat lulusan terbaik Program Studi D-III Kebidanan Stikes Banyuwangi.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

TERLAHIR dari orang tua yang bergelut di dunia kesehatan, tak ayal membuat Endah Kusuma Wardani tertarik menggeluti bidang serupa. Sejak kecil, bungsu tiga bersaudara putri pasangan Dwi Susilo, 60, dan Sutiati, 60, itu pun bercita-cita menjadi seorang bidan.

Bak gayung bersambut, gadis yang karib disapa Endah, itu ternyata mendapat support penuh dari kedua orang tuanya untuk mengejar cita-cita mulia tersebut. Nah, untuk mengejar “mimpi” menjadi seorang bidan, begitu lulus dari SMA Negeri 1 Glagah, Endah memilih melanjutkan studi di Stikes Banyuwangi. Tidak ingin menyia-nyiakan dukungan dari orang-orang terdekat, Endah pun berusaha memberikan yang terbaik.

Caranya, dia giat membaca buku-buku tentang kesehatan plus rajin kuliah. Tidak hanya itu, semua tugas dari dosen berusaha dia kerjakan dengan baik. Ketekunan dan kerja keras lajang yang satu ini ternyata berbuah manis. Dalam sidang
senat terbuka XVII Wisuda S-1 Keperawatan yang dirangkai dengan Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Profesi Ahli Madya Keperawatan dan Ahli Madya Kebidanan Stikes Banyuwangi, Sabtu (3/11), Endah berhasil sebagai lulusan terbaik program studi (prodi) D-III Kebidanan.

Tidak tanggung-tanggung, Index Prestasi Kumulatif (IPK) perempuan yang hobi musik dan menyanyi, ini nyaris bulat. Tepatnya 3,83. “Benar-benar surprise. Saya tidak menyangka bisa menjadi lulusan terbaik pada prodi D-III Kebidanan Stikes Ba nyuwangi tahun ini,” ujarnya Endah mengaku tidak punya kiat khusus selama mengenyam pendidikan di sekolah tinggi yang merupakan “jelmaan” Akademi Keperawatan (Akper) Blambangan, tersebut.

Untuk meraih nilai yang memuaskan, yang saya lakukan hanya rajin belajar, rajin kuliah, dan mengerjakan semua tugas dari dosen. Tidak ada kiat khusus,” tegasnya. Namun demikian, Endah tidak memungkiri bahwa terkadang dia mengalami kesulitan literatur saat mengerjakan tugas dari dosen. Tetapi dia tidak kalah akal. Jika mendapat tugas yang literaturnya sulit didapat, Endah memilih browsing internet untuk mendapat referensi yang dia butuhkan.

Dikatakan, cita-cita menjadi bidan memang sudah dia miliki sejak kecil. “Darah kesehatan” tersebut “ditularkan” oleh sang ayah yang merupakan pensiunan perawat di RSUD Blambangan. “Karena ayah juga bergelut di bidang kesehatan, saya sering sharing dengan beliau. Terutama saat ada tugas-tugas dosen yang saya rasa sulit,” tutur Endah. Dari puluhan mata kuliah yang sudah dipelajari, ternyata Endah paling senang terhadap mata kuliah Asuhan Kebidanan (Askeb).

Sebab, pengetahuan satu mata kuliah tersebut mencakup kesehatan ibu dan bayi. “Pengetahuan mata kuliah Askeb mencakup kesehatan reproduksi, monopouse, dan kesehatan bayi. Padahal, tugas utama seorang bidan sangat berkaitan dengan hal itu,” paparnya. Kini setelah wisuda, Endah langsung ancang-ancang mencari tempat magang untuk menyalurkan ilmu yang sudah dia dapat. Pasalnya, dia menilai “dunia” kuliah yang banyak menonjolkan teori sangat berbeda dengan “dunia sesungguhnya”.

Karena itu, setelah dia ingin segera praktik di tengah masyarakat. jalan yang bisa ditempuh adalah dengan magang di bidan praktik swasta atau di Puskesmas. Seraya magang, Endah akan melanjutkan studi pada Program D-IV Kebidanan Stikes Banyuwangi. Kebetulan, mulai tahun ajaran mendatang, Stikes sudah membuka program D-IV Kebidanan tersebut. “Kita tidak boleh cepat puas atas prestasi yang telah kita raih. Kita harus terus belajar untuk meningkatkan kemampuan,” pungkasnya. (radar)