Markanti, Pemulung yang Ingin Anaknya Sekolah Sampai Sarjana

0
263
Santi menuntun sepeda pancal muatan barang bekas Jl MT Haryono. Sementara, Surya duduk di atas tumpukan barang-barang rongsokan.

Markanti alias Santi, 40, seorang pemulung yang gigih ingin terus menyekolahkan anaknya. Meski kakinya harus menahan sakit akibat asam urat, Santi tidak kenal lelah mencari barang bekas untuk dijual ke pengepul.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

KRIDA HERBAYU, Banyuwangi

Botol bekas minuman kemasan mungkin tidak ada artinya bagi sebagian orang. Namun, barang bekas itu sangat bernilai bagi Santi. Meski dengan segala keterbatasannya, Santi yang tinggal di Lingkungan Ujung, Kelurahan Kepatihan itu tetap bersemangat mencari botol bekas yang berserakan di pinggir jalan.

Semangatnya tersebut termotivasi oleh anak bungsunya, Surya Wijaya, 12. Santi rela setiap hari mencari barang bekas dengan menggunakan sepeda ontel tua miliknya demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Serta harus berjuang keras membiayai sekolah Surya.

Impitan ekonomi terpaksa membuat Santi mengajak anaknya bekerja mencari barang bekas keliling Banyuwangi. Upah suami Santi yang bekerja sebagai buruh serabutan di Bali ternyata belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecilnya.

Sejak balita, Surya memang sering diajak bekerja oleh ibunya tersebut. Saat usia Surya masih dua tahun, Santi sering mengajak Surya mengamen di rumah-rumah warga. “Iya sejak kecil anak saya ini sudah saya ajak bekerja,” ujar wanita kelahiran tahun 1973 itu.

Loading...

Berkat jerih payahnya, Surya dapat terus bersekolah. Surya dikenal sebagai sosok anak yang berani dan memiliki banyak bakat. Bocah yang masih duduk di bangku sekolah kelas lima SDN 1 Tukangkayu itu juga termasuk salah satu siswa yang berprestasi.

Anak seorang pemulung itu pernah menyabet juara tiga lomba baca puisi tingkat kabupaten. Selain itu, Surya juga berbakat dalam bidang olah vokal. “Anak saya sangat suka bernyanyi. Dan tahun lalu pernah ikut lomba nyanyi di Radio VIS FM,” ucap Santi.

Tidak hanya itu, Surya juga gemar membantu sang ibu berjualan jajanan pasar seperti onde-onde dan kucur di sekolah maupun pinggir jalan. Pekerjaan tersebut dilakukan karena saat ini kaki Santi mengalami cedera akibat terpeleset saat mengambil air di belakang rumahnya. Ditambah lagi dengan penyakit asam urat yang masih menggerayangi kaki sebelah kirinya itu.

Santi mengaku jika anaknya sangat rajin dan tidak pernah mengeluh dengan keadaannya tersebut. Dalam satu hari Santi hanya mampu mendapatkan uang Rp 15.000 hasil dari menjual botol dan kardus bekas.

Jika merasa lelah, Surya selalu dinaikkan ke atas tumpukan barang bekas dengan menggunakan sepeda ontel. Selanjutnya sepeda ontel yang penuh dengan tumpukan barang bekas itu di dituntun hingga sampai rumah pengepul barang bekas.

Rezeki yang didapatkan itu selalu disyukuri. Santi terpaksa mengajak Surya bekerja karena tidak mau anaknya itu bermain sendirian di rumah. “Saya tidak mau menitipkan anak saya atau pun meninggalkannya sendirian di rumah. Takut terjadi apa-apa jika saya tinggal sendirian,” papar Santi.

Santi mengaku, saat ini yang dia pikirkan hanyalah pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Dia sangat ingin menyekolahkan anaknya hingga lulus sarjana. Agar tidak menjadi anak yang berguna dan bisa kelak dapat memperbaiki ekonomi keluarganya. “Walaupun saya harus memulung tetap saya jalani untuk biaya pendidikan anak saya,” jelas Santi.

Sembari memeluk sang ibu, Surya mengaku bercita-cita menjadi seorang penyanyi seperti Danang DA2. Kecintaannya terhadap lagu dan budaya Oseng membuatnya semakin bersemangat untuk meraih cita-citanya tersebut. “Saya suka menari dan bernyanyi. Di sekolah juga saya sering ikut kegiatan menari,” tandas Surya.(radar)

Loading...