Mepe Kasur untuk Doa Tolak Bala

0
876

SEMENTARA itu, sebelum selamatan Tumpeng Sewu, warga Kemiren melakukan tradisi mepe kasur ( menjemur kasur) bareng di sepanjang jalan desa. Warga setempat percaya bahwa tradisi mepe kasur itu untuk menolak bala dan penyakit.

Ketua Masyarakat Adat Desa Kemiren, Suhaimi, mengatakan warga Desa Kemiren beranggapan bahwa penyakit datang dari tempat tidur. Sehingga, mereka mengeluarkan kasur dari dalam rumah lalu dijemur diluar agar terhindar dari segala macam penyakit.

Kasur dianggap sebagai benda yang sangat dekat dengan manusia. Sehingga wajib dibersihkan agar kotoran di kasur hilang, Uniknya, warna kasur yang dijemur warga Desa Kemiren itu seragam, yakni berwama merah dan hitam.

Kasur dengan warna merah-hitam itu adalah suatu benda yang wajib diberikan orang tua kepada anak perempuan setelah menikah.¬†“Orang tua harus memberikan kasur merah-hitam ini kepada anak perempuan. Tidak wajib sebenarnya, tapi orang tua di sini malu jika tidak bisa memberikan kasur warna merah- hitam kepada anaknya,” ujar Suhaimi.

Mengenai warna kasur warga Desa Kemiren yang seragam merah dan hitam juga memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Desa Kemiren. Merah yang berani berani, sementara hitam berarti abadi. Intinya, karena kasur ini hadiah orang tua kepada anaknya yang sudah berumah tangga, maka diharapkan mereka selalu berani menghadapi masalah apa saja dalam berumah tangga dan hubungan berumah tangga anaknya abadi selamanya.

Sementara itu, saat Jawa Pos Radar Banyuwangi keliling di semua sudut Desa Kemiren memang seluruh warga mengeluarkan kasurnya untuk dijemur di depan rumah, Tidak hanya dijemur, warga juga memukul- mukul kasur dengan gebluk supaya debu atau kotoran yang ada di atas kasur hilang.

Lebih lanjut, selain ada tradisi mepe kasur di Desa Kemiren kemarin juga diramaikan dengan beberapa acara lain. Seperti pementasan musik tradisional, masyarakat Desa Kemiren juga ada yang mengikuti lomba menjual jajan khas tradisonal.

Jajan khas tradisional, seperti sumping, kucur, lanun, orog-orog, ¬†gedung goreng, dan lain sebagainya. Juga dijual kepada masyarakat luar yang datang di Desa Kemiren, kemarin. “Makan pisang goreng sama minum kopi di sini maknyus,” ujar Bayu. 23, warga Kelurahan Sobo, yang datang di Kemiren kemarin.

Kepala Desa Kemiren Lilik Yuliati mengatakan, pihaknya sengaja mengadakan perlombaan dan jualan jajan khas tradisional. Hal ini dilakukan agar dampak ekonomi dari tradisi adat Desa Kemiren bisa dirasakan oleh masyarakat Desa Kemiren.

“Banyak orang luar Kemiren yang datang ke sini. lni kesempatan bagi warga Desa Kemiren untuk memamerkan jajan khasnya dan juga menjualnya kepada masyarakat lain,” ujar Lilik. (radar)