Mepe Kasur untuk Doa Tolak Bala

0
612

SEMENTARA itu, sebelum selamatan Tumpeng Sewu, warga Kemiren melakukan tradisi mepe kasur ( menjemur kasur) bareng di sepanjang jalan desa. Warga setempat percaya bahwa tradisi mepe kasur itu untuk menolak bala dan penyakit.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Ketua Masyarakat Adat Desa Kemiren, Suhaimi, mengatakan warga Desa Kemiren beranggapan bahwa penyakit datang dari tempat tidur. Sehingga, mereka mengeluarkan kasur dari dalam rumah lalu dijemur diluar agar terhindar dari segala macam penyakit.

Kasur dianggap sebagai benda yang sangat dekat dengan manusia. Sehingga wajib dibersihkan agar kotoran di kasur hilang, Uniknya, warna kasur yang dijemur warga Desa Kemiren itu seragam, yakni berwama merah dan hitam.

Kasur dengan warna merah-hitam itu adalah suatu benda yang wajib diberikan orang tua kepada anak perempuan setelah menikah. “Orang tua harus memberikan kasur merah-hitam ini kepada anak perempuan. Tidak wajib sebenarnya, tapi orang tua di sini malu jika tidak bisa memberikan kasur warna merah- hitam kepada anaknya,” ujar Suhaimi.

Mengenai warna kasur warga Desa Kemiren yang seragam merah dan hitam juga memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Desa Kemiren. Merah yang berani berani, sementara hitam berarti abadi. Intinya, karena kasur ini hadiah orang tua kepada anaknya yang sudah berumah tangga, maka diharapkan mereka selalu berani menghadapi masalah apa saja dalam berumah tangga dan hubungan berumah tangga anaknya abadi selamanya.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last