Berita Terkini Seputar Banyuwangi
Budaya  

Pawai Taaruf hingga Jamasan Pusaka

BANYUWANGI – Tahun baru Hijriah diperingati dengan berbagai cara. Ada yang menggelar pawai taaruf, jamasan pusaka, hingga mengarak tumpeng raksasa keliling kampung. Yang pasti berbagai kegiatan menyambut datangnya tahun baru Islam itu berlangsung meriah dan sarat makna.

Seperti yang terlihat di pusat kota Banyuwangi pagi kemarin. Ribuan anak-anak sekolah berjalan berkeliling kota sembari mengibatrkan atribut- atribut Islam. Pawai Taaruf itu di ikuti anak-anak sekolah SD se-Kecamatan Banyuwangi.

Siar lslam benar-benar terasa dalam pawai taaruf kemarin. Pawai taaruf kemarin start di depan kantor Perindustrian, Perdagangan, dan Pertambangan (Disperindagtam). Kegiatan tersebut digawangi oleh Kerja Guru Agama Islam (KKGAI) Kecamatan Banyuwangi.

Hadir di kursi undangan Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi, Sulihtiyono; Kepala Disperindagtam, Hari Cahyono; kepala Unit Pelaksana Teknik Daerah (UPTD) Kecamatan Banyuwangi; dan seluruh Kepala sekolah dasar (SD) se-Kecamatan Banyuwangi.

Dalam pawai taaruf kemarin juga ditampilkan parade drum band dari beberapa sekolah. Ada juga kesenian hadrah dan kuntulan hingga barisan siswa yang menggambarkan siar agama, seperti membawa tulisan Asmaul Husna.

Kadispendik Sulihtiyono mengatakan pawai taaruf seperti ini perlu digiatkan karena tidak sekadar memberikan hiburan kepada masyarakat Banyuwangi. Lebih penting dari itu,  lanjut Sulih, nilai-nilai siar agama bisa diserap oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Pawai taaaruf yang dilepas langsung Sulihtiyono itu melewati rute Jalan Ahmad Yani ke utara hingga Simpang lima kemudian berbelok ke Jalan dr. Soetomo dan berakhir di Jalan Wahidin Sudirohusodo depan Wisma Blambangan.

Selain pawai taaruf peringatan satu Muharram kemarin juga diwamai tradisi jamasan (memandikan pusaka di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi. Ada berbagai benda pusaka yang di Jamas sejak pagi kemarin, mulai keris, tombak, hingga pedang.

Pusaka-pusaka itu di-jamasi satu-persatu oleh Ketua Paguyuban Pelestari Tosan Aji (Panji), KRT.H Ilham Trihadinagaro. llham menuturkan, jamasan benda pusaka itu merupakan kegiatan budaya yang rutin dilakukan setiap awal bulan Suro.

Dalam jamasan  kali ini sejumlah orang yang ahli dibidangnya diundang. Kegiatan jamasan benda pusaka tersebut merupakan bagian dari kebudayaan. Jamasan tersebut dilakukan secara terbuka untuk umum. Jadi, masyarakat yang memliliki pusaka dan ingin men-jamas pusakanya bisa datang langsung ke pelinggihan Disbudpar.

“Kita buka Jamasan mulai tanggal 15-18 Oktober disini. Selanjutnya, kami lakukan jamasan di berbagai kecamatan lain di Banyuwangi,” tuturnya. Jamasan pusaka ini sebenarnya bisa dilakukan kapanpun. Namun warga yang memliki pusaka percaya bahwa bulan suro merupakan bulan yang baik untuk melakukan jamasan. “Bulan Suro ini dianggap sebagai bulan yang baik bagi masyarakat jawa

Dan Oseng untuk membuang energi negatif dan mulai mengisinya dengan energi positif, tambah Ilham. Jamasan pusaka ini sudah dilakukan sejak kemarin di pelinggihan Disbudpar Banyuwangi. Rencananya, jamasan di Disbudpar ini dilaksanakan sampai tanggal 18 Oktober.

Selanjutnya, jamasan  dilakukan di beberapa kecamatan di Banyuwangi, seperti Kecamatan Rogojampi, Songgon, Singujuruh, Bangorejo, dan Muncar. “Tahun ini memang kita lakukan di kecamatan-kecamatan. Ini juga mempermudah para pemilik pusaka yang rumahnya jauh dari kota, terangnya.

Selain jamasan pusaka, kemarin juga dilaksanakan pameran beberapa pusaka jenis keris. Tidak ketinggalan, batu akik yang saat ini sedang ngetren juga dipamerkan  di pelinggihan Disbudpar Banyuwangi kemarin.

Sekadar tahu, ternyata Banyuwangi juga memiliki ciri khas pusaka. Jenis pusaka Banyuwangi adalah keris Blambangan. Keris Blambangan juga memiliki nilai tinggi dari segi bentuk dan ukuran. “Keris Blambangan ini banyak dicari kolektor pusaka di Indonesia. Bentuk keris Blambangan berbeda dengan keris Jawa lainnya,”  pungkasnya. (radar)

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE