Berita Terkini Seputar Banyuwangi
Budaya  

Pengantar dan Lagu Misa Menggunakan Bahasa Osing

BUDAYA LOKAL: Paduan suara berkostum adat Osing saat misa Natal di GKJW Banyuwangi.
BUDAYA LOKAL: Paduan suara berkostum adat Osing saat misa Natal di GKJW Banyuwangi.
BUDAYA LOKAL: Paduan suara berkostum adat Osing saat misa Natal di GKJW Banyuwangi.

Ada yang unik dari pelaksanaan misa Natal di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi. Seluruh jemaat gereja tersebut mengenakan pakaian khas Jebeng Th ulik lengkap dengan udeng di kepala. Bahasa pengantar yang digunakan saat misa itu pun menggunakan Bahasa Osing.

A: KEPUNDI kabare dulur?
B: Sae-sae mawon
A: Ke suwun, Haliloya

Percakapan antara ketua panitia Natal GKJW Banyuwangi 2012, Listyo Akoso dengan ratusan jemaat itu membuka prosesi misa natal di gereja yang berlokasi di jalan Letkol Istiqlah, Banyuwangi sore itu (24/12). Pelaksanaan misa Natal di GKJW tahun ini memang sangat berbeda dibandingkan dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. Jika selama ini mereka melaksanakan ibadat memperingati hari kelahiran Yesus Kristus itu menggunakan Bahasa Jawa, kali ini mereka menggunakan Bahasa Osing Nuansa khas Banyuwangi semakin kental terasa, lantaran pakaian yang dikenakan para panitia adalah pakaian khas Jebeng- Thulik Banyuwangi.

Begitu juga dengan pendeta yang memimpin misa kali ini, yakni Pdt. Soni Saksono Putro. Saat menyampaikan misa natal di hadapan para jemaat, dia mengenakan busana ala Th ulik. Tidak hanya itu sebagian jemaat juga mengenakan pakaian serupa. Sementara itu, jemaat yang tidak mengenakan pakaian khas Jebeng-Th ulik tetap berusaha menggunakan pakaian yang ada nuansa Banyuwanginya, yakni batik Gajah Uling. Bahkan sebenarnya, nuansa Osing sudah terasa sebelum misa natal berlangsung.

Pasalnya, para jemaat terlebih dahulu disambut tarian “Jejer Gandrung” yang merupakan tarian semalam datang khas Banyuwangi. Usut-punya usut, rupanya hal itu dilakukan lantaran GKJW Banyuwangi ingin semakin membaur dengan lingkungan sekitar. Dengan begitu, diharapkan kerukunan antar-umat beragama semakin terjalin erat. “Kita juga ingin mendukung program pelestarian budaya yang saat ini digalakkan pemerintah,” ujar Listyo.

Menurut Listyo, dengan menonjolkan budaya khas Banyuwangi, para jemaat GKJW tidak terkungkung dengan budaya Jawa Tengah (Jateng) yang selama ini mereka ikuti. “Kali ini kita mencoba mengkiblatkan diri ke Budaya Osing,” terangnya. Lebih lanjut Listyo mengatakan, pelestarian budaya penting dilakukan lantaran kebudayaan bisa berfungsi sebagai media untuk bersosialisasi. “Melalui budaya, kita juga bisa mewartakan kabar suka cita (Kitab Injil),” katanya. Kembali ke cerita tentang jalannya misa Natal ala Osing yang kali pertama digelar di Bumi Blambangan tersebut, sesaat setelah sambutan Listyo, giliran wakil majelis jemaat, Syamsu Tyas Adi yang memberikan sambutan.

Setelah itu, jemaat “disuguhi” panembrama, yakni tembang untuk menghormati tamu. Usai panembrama, seluruh jemaat berdiri. Mereka lantas menyanyikan lagu “Dina Natal” (Hari Natal). Lagu berbahasa Osing, tersebut menceritakan kelahiran Yesus Kristus. Singkat kata, setelah beberapa rangkaian misa berlangsung, Pdt Soni menyampaikan pesan natal “Firman Tuhan” kepada para jemaat. Sementara itu, Listyo sadar bahwa terdapat sisi positif dan negatif dari pelaksanaan misa Natal ala Osing yang baru kali pertama digelar tersebut.

Karena itu, dia berpesan kepada para jemaat untuk membenahi sisi negatif, dan melanjutkan sisi yang positif. “Yang positif mari kita lanjutkan, dan yang negatif mari kita benahi,” katanya. Nah, doa berkat yang merupakan penutup prosesi misa natal, para jemaat lantas melakukan ramah-tamah dengan iringan lagu “kebesaran” masyarakat Banyuwangi, yakni lagu Umbul-umbul Blambangan. (radar)

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE