Pengantar dan Lagu Misa Menggunakan Bahasa Osing

0
621
BUDAYA LOKAL: Paduan suara berkostum adat Osing saat misa Natal di GKJW Banyuwangi.
BUDAYA LOKAL: Paduan suara berkostum adat Osing saat misa Natal di GKJW Banyuwangi.
BUDAYA LOKAL: Paduan suara berkostum adat Osing saat misa Natal di GKJW Banyuwangi.

Ada yang unik dari pelaksanaan misa Natal di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Banyuwangi. Seluruh jemaat gereja tersebut mengenakan pakaian khas Jebeng Th ulik lengkap dengan udeng di kepala. Bahasa pengantar yang digunakan saat misa itu pun menggunakan Bahasa Osing.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

A: KEPUNDI kabare dulur?
B: Sae-sae mawon
A: Ke suwun, Haliloya

Percakapan antara ketua panitia Natal GKJW Banyuwangi 2012, Listyo Akoso dengan ratusan jemaat itu membuka prosesi misa natal di gereja yang berlokasi di jalan Letkol Istiqlah, Banyuwangi sore itu (24/12). Pelaksanaan misa Natal di GKJW tahun ini memang sangat berbeda dibandingkan dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. Jika selama ini mereka melaksanakan ibadat memperingati hari kelahiran Yesus Kristus itu menggunakan Bahasa Jawa, kali ini mereka menggunakan Bahasa Osing Nuansa khas Banyuwangi semakin kental terasa, lantaran pakaian yang dikenakan para panitia adalah pakaian khas Jebeng- Thulik Banyuwangi.

Begitu juga dengan pendeta yang memimpin misa kali ini, yakni Pdt. Soni Saksono Putro. Saat menyampaikan misa natal di hadapan para jemaat, dia mengenakan busana ala Th ulik. Tidak hanya itu sebagian jemaat juga mengenakan pakaian serupa. Sementara itu, jemaat yang tidak mengenakan pakaian khas Jebeng-Th ulik tetap berusaha menggunakan pakaian yang ada nuansa Banyuwanginya, yakni batik Gajah Uling. Bahkan sebenarnya, nuansa Osing sudah terasa sebelum misa natal berlangsung.

Loading...

Pasalnya, para jemaat terlebih dahulu disambut tarian “Jejer Gandrung” yang merupakan tarian semalam datang khas Banyuwangi. Usut-punya usut, rupanya hal itu dilakukan lantaran GKJW Banyuwangi ingin semakin membaur dengan lingkungan sekitar. Dengan begitu, diharapkan kerukunan antar-umat beragama semakin terjalin erat. “Kita juga ingin mendukung program pelestarian budaya yang saat ini digalakkan pemerintah,” ujar Listyo.

Lanjutkan Membaca : 1 | 2