Penyeberangan Selat Bali Ditunda

  • Bagikan

Pandangan Terbatas karena Tertutup Kabut

————————————————
KALIPURO – Hujan lebat yang melanda wilayah Banyuwangi dan sekitarnya kemarin (14/1) mengakibatkan aktivitas penyeberangan di Selat Bali terhambat. Lantaran perairan tersebut diselimuti kabut tebal, pihak pengelola Pelabuhan Ketapang dan Pelabuhan Gilimanuk berinisiatif menunda  penyeberangan selama satu jam. Informasi yang berhasil dikumpulkan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi menyebutkan, penundaan aktivitas penyeberangan itu berlangsung sejak pukul 14.10 hingga sekitar pukul 15.00 kemarin.

Penyebabnya, kabut tebal menghalangi jarak pandang di perairan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali tersebut. Pemimpin Cabang PT ASDP Indonesia Ferry (PT IF) Ketapang, Waspada Heruwanto, membenarkan penundaan aktivitas penyeberangan tersebut. Dia menjelaskan, penundaan penyeberangan itu dilakukan karena hujan lebat menimbulkan kabut yang mempengaruhi jarak pandang. Untuk menghindari kecelakaan, maka aktivitas penyeberangan harus ditunda. “Penundaan dilakukan karena kabut.

Sedangkan ketinggian gelombang normal,” ujarnya. Waspada menambahkan, aktivitas penyeberangan kembali dibuka sekitar pukul 15.00 Usai menemui Gus Hisyam, para ketua MWC tersebut langsung menemui Masykur Ali di Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, untuk menyampaikan hasil pertemuan di kediaman Gus Hisyam itu. Awalnya, Masykur tidak bisa langsung menerima amanat para kiai tersebut. Sebab, dia merasa sudah cukup dua periode menjadi ketua Tanfidz PCNU Banyuwangi. Namun, setelah mendengar berbagai alasan dan masukan para kiai MWCNU itu dan permintaan Gus Hisyam, akhirnya Masykur Ali bersedia maju kembali menjadi ketua tanfi dz. “Saya tidak bisa menolak permintaan para ketua MWC.

Apalagi, Gus Hisyam juga yang minta,” kata Masykur. Sehingga, sejak itu dibantu para ketua MWCNU dan sejumlah orang dekatnya, Gus Hisyam dan Masykur Ali mulai melakukan konsolidasi. Melalui jaringan MWCNU, duet incumbent tersebut melakukan pertemuan dengan para rais syuriah dan ketua tanfidz Ranting NU di setiap daerah pemilihan (mengacu peta wilayah pemilihan umum, Red). Semakin lama, upaya konsolidasi itu menunjukkan hasil yang signifi kan. Mereka mampu meyakinkan para pemilik suara untuk kembali memilih duet incumbent pada Konfercab NU 12-13 Januari lalu. Makanya, ketika proses pemilihan berlangsung, keduanya mengaku optimistis.

Meski demikian, saat penghitungan suara tanfi dz, Masykur mengaku biasa saja. “Dua periode sebelumnya, saya juga merasa biasa seperti ini,” tuturnya. Hal sama juga disampaikan Gus Hisyam. Kiai dengan ribuan santri tersebut juga mengaku tak merasakan bakal ada perubahan pada duet PCNU untuk periode 2013-2018. “Biasa- biasa saja, feeling gitu kan bisa dirasakan,” ujarnya. Ke depan, duet Gus Hisyam- Masykur berharap bisa sinergi dengan Pemkab Banyuwangi. Apalagi, bupati saat ini adalah mandat dari hasil rekam aspirasi warga NU. “Bersinergi dalam arti demi kemaslahatan umat dan memajukan Banyuwangi menjadi lebih baik,” pungkas Gus Hisyam. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: