Punya View Selat Bali, Tol Banyuwangi akan Tonjolkan Arsitektur Khas Kearifan Lokal

  • Bagikan
Foto: Ilustrasi Jalan Tol

BANYUWANGI – Proses pembangunan tol Trans Jawa kini sedang memasuki pembangunan sisi tertimur. Yakni, ruas tol yang menghubungkan dari Probolinggo menuju ke Banyuwangi.

Dilansir dari banyuwangikab.go.id, tol yang diberi nama Probowangi itu saat ini memasuki sejumlah tahapan persiapan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi telah bertemu manajemen PT Jasa Marga sebagai pengembang ruas tol tersebut belum lama ini untuk mengakomodasi konsep arsitektur yang khas budaya setempat.

“Misalnya, rest area untuk UMKM menggunakan arsitektur khas rumah Suku Osing Banyuwangi. Kemudian pintu keluarnya didesain dengan pendekatan budaya lokal kami. Itu akan menjadi ikonik, sebab pintu keluar tolnya punya view keren Selat Bali,” ujar Bupati Anas.

“Ini akan keren, apalagi ke depan berpadu dengan revitalisasi Pelabuhan Ketapang yang akan digarap BUMN PT ASDP dengan pendekatan arsitektur yang ikonik melibatkan arsitek tersohor Gregorius Supie,” imbuhnya.

Bupati Anas yakin, pengembangan tol bakal semakin menggeliatkan ekonomi Banyuwangi.

“Kita akan makin satukan paket pemasaran Bali dan Banyuwangi, karena lewat tol ini lebih mudah dan cepat ke Banyuwangi dan Bali. Ke Banyuwangi, bisa dapat Bali. Ke Bali, bisa dapat Banyuwangi,” paparnya.

Beberapa pengembangan pun telah dilakukan Banyuwangi untuk menyambut beroperasinya jalan tol tersebut dalam beberapa tahun ke depan.

“Pariwisata berbasis rakyat terus berkembang. Atraksi kuliner di destinasi semakin pesat. Lalu ada Jatim Park yang dalam proses pembangunan. Lalu ada destinasi alam yang penuh pesona. Semuanya siap menyambut lonjakan kunjungan seiring beroperasinya tol ke depan,” beber Bupati Anas.

Sementara itu, Direktur Utama PT Jasa Marga Probowangi Hari Pratama sepakat dengan sejumlah gagasan Pemkab Banyuwangi. Pihaknya sangat mengapresiasi perlunya arsitektur lokal dalam pembangunan tol.

“Pada prinsipnya kami sangat mengapresiasi ide ini. Tantangannya hanya pada memadukan kekhasan arsirektur lokal dengan standar regulasi yang telah ditetapkan kementerian,” jelasnya.

Desain rest area sendiri, lanjut Hari, nantinya bakal dibuat senyaman mungkin selayaknya destinasi wisata. Dengan memanfaatkan tebing, rest area akan dibuat terasiring.

“Sehingga pemandangan Selat Bali benar-benar bisa dinikmati sembari beristirahat di rest area,” ujarnya.

Hari juga optimistis ruas tol tersebut bakal semakin mendorong pengembangan ekonomi di kawasan timur Pulau Jawa.

“Dengan kemajuan Banyuwangi yang pesat, tol ini punya prospek yang bagus, semakin memudahkan aksesibilitas orang menuju Banyuwangi,” ujarnya.

Saat ini proses pembangunan jalan tol menuju Banyuwangi telah masuk proses konsultasi publik untuk kemudian dilakukan pembebasan lahan. Jalur tol menuju Banyuwangi menggunakan tanah milik Perhutani sebesar 42 persen. Adapun yang lainnya adalah tanah masyarakat, tanah negara, dan lahan PT Kereta Api.

“Setelah pembebasan lahan selesai pada tahun ini, langsung kami kebut pengerjaannya,” ujarnya.

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: