Waspada DBD di Tengah Pandemi Korona

  • Bagikan
Foto: Radar Banyuwangi – Jawa Pos

BANYUWANGI – Di tengah pandemi Caronavirus disease (Covid-19), persebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) tampaknya patut diwaspadai.

Dilansir dari Radar Banyuwangi – Jawa Pos, tidak sedikit warga yang menjalani rawat inap gara-gara kena gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Antisipasi warga terhadap DBD harus lebih ditingkatkan. Saat ini, jumlah kasus DBD di Banyuwangi menduduki ranking ke-11 di Jawa Timur (Jatim). Hal ini dibenarkan Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi dr Widji Lestariono.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan ancaman yang bisa terjadi di semua kawasan, baik desa maupun perkotaan. Faktor terpenting munculnya DBD adalah adanya tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai penular penyakit.

“Selama ada tempat jentik berkembang, potensi DBD mungkin akan ada,” kata dokter yang akrab disapa Rio tersebut.

Saat ini kasus DBD di Banyuwangi tergolong tinggi. Selama 2020, Dinkes mencatat 146 kasus DBD, bahkan 5 diantaranya mengakibatkan pasien meninggal dunia.

Untuk kasus meninggal dunia, kejadian berlangsung sebelum dan sesudah pandemi Covid-19, yakni mulai Februari, Maret dan April.

Sedangkan lokasinya menyebar di sejumlah Kecamatan. Yakni Kecamatan Rogojampi 3 kasus, Kecamatan Gambiran serta Siliragung masing-masing 1 kasus.

“Kasus ini merata, hampir semua kecamatan,” ungkapnya.

Kegiatan penanganan DBD selama masa pandemi korona terbilang masih sama, yakni penanganan terhadap suspect maupun terkonfirmasi DBD, penyelidikan epidemiologi, dan fogging. Termasuk pemberantasan sarang nyamuk dan program satu jumantik yang dilakukan oleh penghuni rumah masing-masing.

Sementara ini, kegiatan yang dikurangi adalah Pemantauan Jentik Berkala (PJB) yang biasa dilakukan berkeliling oleh petugas.

“Semua kita lakukan, kecuali PJB dihentikan dulu,” kata Rio.

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: