Bupati Anas Kaget soal Bangunan di Ijen

0
469
Pembangunan sarana dan prasarana wisata di puncak Ijen ini terus mengundang protes dari wisatawan maupun pegiat lingkungan.

Anas: Seharusnya BKSDA Paparan Dulu

BANYUWANGI – Pembangunan fisik di kawasan puncak Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Ijen menuai reaksi lintas elemen masyarakat. Bukan hanya kalangan wisatawan, reaksi atas pembangunan yang dilakukan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim, itu juga datang dari Bupati Abdullah Azwar Anas.

Anas menyatakan pihaknya belum pernah mendapatkan pemaparan tentang rencana pengembangan dan pmmbangunan di Gunung ljen. “Saya agak kaget dengan lokasi pembangunan fisik Ijen seperti sekarang. Maka kita inggin mendapatkan informasi itu (rencana pengembangan dan pembangunan Ijen),” ujarnya dikonfirmasi saat meninjau kesiapan peresmian Sahid Hotel Kemiren, Glagah, kemarin (3/11).

Orang nomor satu di jajaran Pemkab Banyuwangi, itu mengaku dirinya sudah mendapat banyak protes tentang pembangunan Ijen. “Saya sendiri kaget dengan posisi bangunan yang ada di sekitar kawah Ijen,” kata dia.

Menurut Anas, seharusnya BKSDA menyampaikan pemaparan tentang rencana pengembangan dan pembangunan di salah satu objek wisata yang terkenal dengan fenomena api biru  (blue fire) yang menawan tersebut.

Dia lantas menunjuk dengan langkah Pemkab Banyuwagngi sebelum membangun Kawasan Alun-Alun Taman Blambangan beberapa tahun lalu. “Banyuwangi saat akan membangun alun-alun sedikit saja kita publish ke masyarakat. Kami menggelar public hearing dan meminta serta meminta masukan dari tokoh masyarakat dan budayawan,” kata dia.

Loading...

Lebih jauh Anas mengatakan, pihaknya berharap pembangunan di kawasan Gunung ljen tidak mengganggu ekosistem yang ada. Selain itu, arsitektur bangunan bisa dikombinasikan dengan landscape yang selama ini menjadi keunggulan kawasan Gunung Ijen.

Pihaknya akan meminta klarifikasi kepada BKSDA tentang rencana pembangunan di Gunung ljen. “Yang jelas pembangmmn di Ijen tidak boleh merusak keindahan alam dan cagar alam yang selama ini ada di kawasan Ijen,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, untuk mencegah pengunjung terperqsok, pihak BKSDA membangun pagar pembatas. Pembatas sepanjang 150 meter mulai dibangun di titik pandang wisatawan ke Blue Fire dan jalur trek. Lokasi tersebut memang rawan longsor, namun para wisatawan tidak suka dengan proyek pembangunan itu karena dirasa mengganggu pemandangan.

Langkah BKSDA membangun sarana dan prasarana di puncak Ijen menuai banyak protes. Sejumlah aktivis lingkungan menolak jika puncak ljen berdiri bangunan permanen seperti tembok pembatas dan sarana lainnya.

Alasannya, kehadiran bangunan permanen itu merusak keaslian wajah Ijen. Bukan hanya aktivis lingkungan, pengunjung juga kecewa setelah melihat puncak Ijah digali dan didirikan bangunan permanen.

Kekecewaan warga banyak dilampiaskan lewat media sosial. Ada yang bilang Ijen tak natural lagi, ada juga yang mengkritik bangunan baru mengurangi daya tarik pengunjung.

Andika Rahmat Hidayat, 30, seorang guide mengatakan, jika turis asing yang dibawanya tidak lebih dari 30 menit saja berada di puncak Ijen. Mereka kecewa adanya proyek pembangunan pagar pembatas itu yang dirasa merusak keindahan kawah tersebut.

”Kebanyakan turis tidak berlama-lama berada, di puncak. Sebanyak 95 persen turis yang saya bawa merasa terganggu,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BKSDA wilayah Banyuwangi Sumpena menjelaskan, pembangunan pagar tersebut ditargetkan rampung akhir tahun 2017. Selain itu, di kawasan wisata Kawah Ijen tahun ini juga akan dibangun beberapa pendapa untuk tempat peristirahatan pengunjung.

“Ini merupakan proyek untuk mempercantik kawasan Kawah Ijen. Dengan dibangun fasilitas yang lengkap diharapkan mampu menarik lebih banyak lagi turis mancanegara. Selain itu, bisa memajukan pariwisata di Banyuwangi,” tandas Sumpena. (radar)

loading...