Baznas Bantu Penderita Lepra

0
345


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

GAMBIRAN-Badan amil zakat nasional (Baznas) Banyuwangi menyalurkan bantuan ke Mohadi, 65, warga miskin yang menderita lepra asal Kampung Sumbermulyo, RT 2, RW 7, Dusun Stembel, Desa/Kecamatan Gambiran kemarin (30/1).

Bantuan itu diserahkan langsung oleh Ketua Baznas, Samsudin Adlawi, bersama komisioner lainnya. Juga ikut dalam rombongan Ketua Tim Penggerak PKK Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani; Kepala Dinas Sosial, Peni Handayani,  ketua IDI Banyuwangi, dr. Yos Hermawan,  dan Forpimka Gambiran.

Loading...

Mohadi yang mendapat bantuan itu, selama ini hanya tinggal sendirian di rumahnya yang  sederhana. Kakek itu kondisinya mengenaskan karena kakinya mengalami infeksi yang cukup serius. Selain menyerahkan bantuan, rombongan Baznas juga memotivasi untuk lebih bersemangat  dan menjaga kesehatan.

“Monggo Pak, ini nanti buat beli lemuru (lauk),” ucap ketua Baznas Banyuwangi, Samsudin Adlawi. Ketua Tim Penggerak PKK Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, berharap ke depan pemerintah bisa lebih meningkatkan soal kesehatan masyarakat.

“Pemerintah meningkatkan program kesehatan, masyarakat juga lebih peduli kesehatan,” jelasnya. Dia juga berharap pihak kesehatan bisa merangkul semua pihak, termasuk PKK agar memudahkan sosialisasi kesehatan. Sehingga,warga bisa mengetahui gejala dan melakukan perawatan secara mandiri.

“Butuh sosialisasi tentang penyakit,” ungkapnya. Mohadi menyampaikan kalau saat ini untuk memenuhi ke butuhkan sehari-hari, dia hanya bisa mengandalkan uluran tangan dari kerabat. “Sekarang dapat beras ya dari dulure (saudara),” jelasnya.

Sejak menderita sakit lepra dan kakinya mengalami infeksi hingga terjadi pembengkakan,  dia mengaku tidak bisa bekerja secara normal. “Ini sudah lama (menderita lepra), sampai  saya lupa kapan mulainya,” jelasnya.

Salah satu dokter dari Puskesmas Yosomulyo, dr. Rohmah El Yunusiah, mengungkapkan  pada 2015 sudah melakukan perawatan rutinsetiap minggu. Sejak awal, Mohadi memang  takut untuk diobati. Selain itu, infeksi itu karena  lingkungan yang kurang bersih. Pasien sendiri  takut diobati, tidak ada yang merawat, istrinya   tidak ada,” jelasnya. (radar)

Loading...

Baca Juga :