Diburu Pencinta akik, Bebatuan Grajagan Dibongkar Paksa

  • Bagikan

PURWOHARIO – Pencinta akik Nusantara diam-diam mulai mencari batu bongkahan di pantai Banyuwangi Selatan. Kali ini bebatuan di sepanjang tepi Pantai Grajagan banyak dibongkar paksa menggunakan besi tumpul.

Yudi Irawan, 33, warga Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, yang mengunjungi Wanawisata Grajagan mengaku kaget. Dia melihat banyak bongkahan batu di sepanjang Pantai Grajagan. Batu-batu itu seperti ditinggalkan begitu saja usai dibongkar.

“Barunya keras, warnanya juga lumayan bagus. Mungkin ditinggal setelah diambil bagian yang menarik,” tuturnya. Batu bongkahan itu banyak ditemukan di Paras Gempal, tak jauh dari pantai Wanawisata Grajagan.

Warna batu di kawasan itu cukup bervariasi, mulai merah, ungu, kuning, cokelat, dan berbagai warna lain. Tidak hanya itu, batu bongkahan yang ditemukan itu juga memiliki motif menarik. “Kemungkinan sudah banyak yang diambil dan diperjualbelikan ke pasar,” katanya.

Menuju Paras Gempal memang cukup sulit. Selain harus ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri pantai, pengunjung juga harus melewati tebing batu cadas yang curam dan cukup berbahaya ditepi pantai. Menuju kawasan tersebut, pengunjung harus menyeberangi muara sungai di Pantai Grajagan.

Sementara itu, kejadian serupa pernah menimpa batu Watudodol di Desa Ketapang, Kecamatan, Kalipuro, Banyuwangi, awal tahun 2015 silam. Saat itu, warga nekat mencongkel batu Watudodol yang berada di tepi jalan utama jurusan Banyuwangi-Situbondo itu.

Para pengambil batu di Watudodol biasanya beraksi pada malam hari. Saking ramainya, aksi pencongkelan batu itu bikin resah warga sekitar. Akhirnya, polisi menjaga kawasan di sekitar Wanawisata Watudodol tersebut  selama beberapa hari.

Namun, seiring redupnya tren batu akik, pencongkelan batu di Watudodol tahun lalu itu akhirnya mereda dengan sendirinya. Apalagi, ada yang menyatakan bahwa kualitas dan kekerasan batu di Watudodol kurang bagus. Sementara itu, yang terjadi di Paras Gempal, kawasan Pantai Grajagan, kali ini sedikit berbeda.

Sebab, pencongkelan diduga ketika pamor tren batu akik sudah meredup. Selain itu, kondisi batu di Paras Gempal, Kecamatan Purwoharjo, itu diduga jauh lebih bagus daripada bebatuan di kawasan Watudodol, Kalipuro. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: