Hujan Tidak Henti, Harga Gabah Turun

0
439


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

ROGOJAMPI – Para petani di beberapa desa di wilayah Kecamatan Rogojampi yang sedang menanam tanaman padi, kini mulai panen. Tapi sayang, mereka tidak bisa senyum lebar karena harga gabah turun. Salah seorang petani di Desa  Rogojampi, Misadi, 52, mengatakan   harga gabah yang awalnya diprediksi bertahan di kisaran Rp 4.900 per kilogram, kini justru merosot   di kisaran Rp 4.600 per kilogram.  Hal itu lantaran turun hujan yang tidak pernah henti.

“Kadar air di gabah meningkat dan hampa, jadi harganya turun,” katanya. Musim hujan juga berpengaruh  terhadap produktivitas hasil panen. Jika dalam satu hektare itu biasanya mampu panen hingga enam ton, kini tidak bisa karena kadar air  gabah yang tinggi.

Loading...

“Berat basahnya mencapai enam ton, tapi setelah kering menurun,” cetusnya. Petani lain, Sonari, 45, asal Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh  mengungkapkan jika melihat bulir padi, sebenarnya cukup bagus,  dan hasilnya sekitar enam ton per hektare. Tapi karena gabah yang basah, membuat harga pasaran cukup rendah, dan tidak sampai  di bawah harga pokok pemerintah (HPP) Rp 3,7 ribu per kilogram.

Menurut Sonari, harga gabah jika musim rendeng (hujan) berbeda dengan saat musim kemarau. Di musim rendeng, banyak hujan dan  lembab sehingga menyebabkan harga gabah anjlok. Kondisi itu berbeda saat panen di musim kering. Selain produksi yang mencapai tujuh hingga delapan ton per hektare, kualitas gabah juga cukup bagus.

Sementara itu, musim panen padi  juga membawa berkah bagi para buruh panggul gabah. Mereka dapat  pekerjaan mengangkut hasil panen dari persawahan ke pinggir jalan atau ke rumah pemilik sawah. “Ongkosnya bervariasi,” cetus Muhammad Suwono, 45, salah seorang bu ruh panggul dengan motor asal Dusun Blumbang Lor, Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh.

Ongkos buruh panggul dengan motor itu, terang dia, jika sawah dekat dengan jalan raya, ongkos berkisar  Rp 10 ribu per karung. Sementara jika jauh dari jalan raya dengan medan berat, ongkos biaya panggul motor  bisa mencapai Rp 25 ribu per  karungnya.

“Kesulitannya jika musim hujan, motor sering terperosok ke  dalam lumpur,” katanya. Dia bersyukur dengan menggunakan motor tenaganya tidak  banyak terkuras. “Lumayan kalau  musim panen, kalau jarak jauh sehari bisa bawa pulang hingga  Rp 200 ribu,” katanya. (radar)

Loading...

Baca Juga :