Makkah Dilanda Badai Pasir

0
257
Rombongan-JCH-Banyuwangi-memanjatkan-doa-bersama-di-depan-rumah-kelahiran-Nabi-Muhammad-SAW-yang-saat-ini-menjadi-perpustakaan-di-Makkah,-kemarin.
Rombongan JCH Banyuwangi memanjatkan doa bersama di depan rumah kelahiran Nabi Muhammad SAW yang saat ini menjadi perpustakaan di Makkah, kemarin.

JCH Banyuwangi Dipastikan Aman


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

MAKKAH – Saat jamaah calon  haji (JCH) Banyuwangi hendak menjalankan ibadah umrah di Masjidilharam, tiba-tiba badai pasir melanda kota Makkah, pukul 17.15 Waktu Arab Saudi (WAS) atau sekitar pukul 21.15 WIB, Sabtu (27/8), kemarin.

Badai yang berlangsung selama satu jam ini sempat membuat jamaah panik. Tidak ada korban saat badai pasir melanda. Sebab, seluruh  jamaah sedang berada di dalam maktab. dr. Titah Palupi, salah satu dokter kloter JCH Banyuwangi  melaporkan, saat badai pasir  bercampur debu berlangsung,  dirinya sedang berada di dalam  lobi hotel bersama jamaah haji   lainnya.

Saat itu dirinya dan rombongan lain sedang bersiap menuju Masjidilharam untuk menjalankan ibadah umrah. ”Di sini ada badai (kemarin). Badainya kencang sekali. Kami tidak berani keluar dan memang sudah dilarang keluar oleh petugas,” ujar salah satu anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI)  Cabang Banyuwangi tersebut.

Pasir bercampur debu yang terbawa angin intensitasnya tidak seberapa. Meski badai sedang  berlangsung, tidak sampai mengganggu jarak pandang jamaah. Namun, karena kencangnya badai  tentu sangat membahayakan jika jamaah berada di luar maktab.

”Badai pasir berlangsung pukul 17.15 WAS. Alhamdulillah tidak lama, sempat berhenti sejenak, tapi sesekali badai kembali lagi,” ujar dokter yang berdinas di RSUD Blambangan ini. Handoyo Saputro, tim peliput lainnya juga melaporkan kondisi  serupa.

Sebagai salah satu ketua regu di KBIH Sabilillah, dia harus memastikan bahwa jamaah tidak  ada yang berada di luar maktab. Setelah badai pasir berlangsung, cuaca tidak segera membaik. Hujan gerimis malah menyusul, sehingga membuat jamaah yang akan  melaksanakan umrah tertahan di  dalam maktab.

”Kita semua sudah bersiap umrah, tapi ada kendala cuaca buruk akhirnya kami tunda sampai cuaca kembali normal,” jelas owner Dessy Education ini. Terkait badai pasir dan debu yang  sempat melanda kota Makkah, Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi, Santoso yang  ikut bersama rombongan memastikan seluruh jamaah dipastikan selamat.

Loading...

”Semua jamaah kami pastikan aman. Saat badai berlangsung sudah berada di dalam maktab untuk bersiap menunaikan ibadah umrah dan salat magrib di Masjidilharam,” jelasnya. Petugas sektor yang berada di dalam maktab sangat kooperatif menginformasikan terkait badai  ini.

Sebagian-jamaah-Banyuwangi--yang-telah--menggunakan--pakaian-ihram--menunggu-di--lobi-hotel-saat--badai-pasir-berlangsung,-Sabtu-sore-kemarin.

Sekejap setelah badai berlangsung, pengumuman larangan keluar maktab pun langsung diserukan melalui pengeras suara.  Hal ini tentunya sempat membuat panik, namun seluruh petugas juga ikut menenangkan jamaah bahwa badai yang berlangsung hanyalah fenomena biasa di Makkah.

”Sekitar satu jam badai pasir disusul hujan gerimis. Mudah-mudahan tidak ada lagi. Mungkin ini hanya untuk menguji kesabaran kita,” terangnya. Sementara itu, aktivitas jamaah kemarin tidak jauh berbeda dengan hari sebelumnya. Umrah dan ibadah wajib tetap dilaksanakan.

Beberapa jamaah juga ada yang melaksanakan ziarah ke berbagai tempat seperti ke Hudaibiyah dan berbagai tempat lain. Untuk jamaah yang sudah sepuh banyak juga  yang hanya menjalankan ibadah  di dalam maktab. ”Bimbingan manasik dan pengajian di dalam hotel juga rutin dilakukan, ini utamanya bagi jamaah yang sepuh-sepuh,” pungkas Santoso.

Herman Suyitno, tim peliput untuk Jawa Pos Radar Banyuwangi lainnya menyampaikan, saat salat wajib berlangsung, jamaah Banyuwangi tidak mau kalah dengan jamaah dari negara lainnya. Sebagian jamaah yang memiliki fisik prima saat salat di Masjidilharam juga ingin berada di barisan yang paling depan.

Namun, hal ini bukanlah sesuatu yang mudah  bagi jamaah Indonesia yang memiliki postur tubuh yang lebih  kecil dari pada jamaah luar negeri. ”Pasti semuanya ingin berada di barisan paling depan, tapi itu butuh  perjuangan. Saat salat duhur kemarin, ada satu JCH Banyuwangi  yang berhasil di saf barisan nomor  25.

Dia ternyata datang lebih awal menuju Masjidilharam, yakni sekitar pukul 09.00 sudah berangkat. Meski  di barisan nomor 25, akan tetapi  Kakbah bisa terlihat dengan jelas  dan dekat,” jelas Wakil Komisioner Baznas Banyuwangi ini.  Untuk kegiatan umrah ketiga ke marin, hendaknya jamaah harus  memanfaatkan waktu yang ada  semaksimal mungkin.

Umrah di  Masjidilharam harus dilaksanakan karena pahalanya sangat besar dibandingkan saat kita umrah di masjid yang lainnya. ”Jika kita ibadah di Masjidilharam pahalanya  bisa mencapai 100.000, kalau di Masjd Nabawi mencapai 10.000. Tapi kalau di masjid lainnya hanya  satu pahalanya. Jadi, manfaatkan  waktu yang ada untuk beribadah di  Masjidilharam,” pungkas ketua  rombongan KBIH Sabilillah asal Desa  Sidodadi, Wongsorejo ini. (radar)

Loading...

Baca Juga :