Marak Pencurian Bata Raksasa

0
404
RAKSASA: Batu bata berukuran 40 cm X 20 cm X 10 cm di eks kompleks keraton Kerajaan Macan Putih.

Situs Kerajaan Macan Putih


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

KABAT – Sejarawan dari Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta, Sri Margana, mengaku prihatin dengan nasib situs Kerajaan Macan Putih di Desa Macan Putih dan Desa Gombolirang, Kecamatan Kabat. Peninggalan peradaban yang tinggi dari kerajaan tersebut ternyata kini banyak yang raib dicuri orang tak bertanggung jawab.

Margana menyebut, ada kelompok yang telah terorganisasi dengan baik. Mereka diduga mencuri sejumlah situs peninggalan Kerajaan Blambangan dengan raja yang terkenal Prabu Tawang Alun itu. “Desa Macan Putih ini dulu pusat Kerajaan Blambangan dengan Raja Prabu Tawang Alun,” jelasnya.

Dari data yang ada, Margana mengungkapkan bahwa pusat Kerajaan Blambangan berpindah-pindah. Setiap pergantian raja, jelas dia, biasanya ibu kota kerajaan dipindah. “Pusat Kerajaan Blambangan pernah di Panarukan (Situbondo), pindah ke Kedawung (Jember), lalu ke Macan Putih ini,” terangnya.

Bagi Margana, Kerajaan Blambangan di Macan Putih termasuk memiliki peradaban yang tinggi. Prabu Tawang Alun yang berkuasa pada 1655 M hingga 1691 M itu termasuk raja yang terkenal. “Ini yang membuat kami tertarik meneliti,” ujarnya. Selama sebulan ke depan, Margana bersama sepuluh peneliti yang di antaranya dari jurusan arkeologi UGM akan melakukan penelitian tentang struktur bangunan masa Kerajaan Blambangan Kami ingin tahu pola tata kota masa Hindu dulu,” cetusnya.

Hanya, kata dia, melakukan penelitian itu tidak mudah. Sebab, sejumlah situs telah hilang dicuri orang. Bahkan, pe ninggalan kerajaan juga ti dak membekas. “Kami ber keyakinan, bangunan kerajaannya itu ada di Dusun Krajan, Desa Macan Putih,” ungkapnya. Menurut Margana, situs peninggalan Kerajaan Blambangan di Macan Putih itu kali pertama ditemukan tahun 2003 lalu.

Sejak saat itu, perburuan barang langka itu ramai dilakukan warga. “Ada perburuan yang sengaja di organisir,” sebutnya. Selain pencurian dan per buruan, kata dia, bata-bata besar itu juga ada yang diambil warga dan digunakan membangun rumah. Mereka kebanyakan tidak tahu bahwa peninggalan sejarah itu memiliki nilai yang sangat tinggi. “Meski situsnya banyak yang hilang, arsip dapat kita temukan di Belanda,” cetusnya. Margana menyebut, dalam penelitian tersebut dirinya akan melakukan beberapa tahap, seperti survei, pemetaan lapangan, dan melakukan penggalian (eksavasi). “Tim kita bagi dua, ada yang survei dan ada yang melakukan pemetaan di lapangan,” ka tanya. (radar)