Meriahnya Festival Kuwung 2015 di Banyuwangi

  • Bagikan

BANYUWANGI – Ribuan warga Kota Gandrung dihibur bermacam atraksi budaya daerah dalam perhelatan Festival Kuwung tadi malam (5/12).  Warga sudah memadati sepanjang rute yang dilalui pawai pelangi budaya daerah itu.

Sejak pukul 19.00 tadi malam massa sudah memadati kawasan start di depan kantor Pemkab Banyuwangi di Jalan A. Yani. Petugas Dinas Perhubungan Banyuwangi sudah menutup jalan-jalan yang dilalui pawai sejak Magrib.

Kerumunan massa juga terlihat di Jalan PB. Sudirman, Jalan Satsuit Tubun, dan Jalan Diponegoro sebagai lokasi finis. Cuaca yang mendung dan sesekali gerimis tak menghalangi minat warga menyaksikan pawai tersebut.

Hinga berita ini ditulis pukul 20.00 tadi malam, pawai budaya tersebut masih berlangsung.  Sementara itu, Festival Kuwung 2015 kali ini mengusung tema cerita rakyat atau legenda asli Banyuwangi. Acara yang menjadi rangkaian dari peringatan liari Jadi Banyuwangi (Harjaba) tersebut melibatkan lebih dari seribu orang.

Mereka menampilkan parade berisi cerita rakyat atau folklore secara turun-temurun. Tak hanya partisipasi 2-1 kecamatan, enam kabupaten/kota tetangga yaitu Probolinggo, Jembrana, Kediri, Lumajang, Pasuruan, dan Kota Denpasar, turut meramaikan pawai tersebut.

Festival yang dimulai sekitar pukul 19.00 itu diawali kisah rakyat wilayah Kecamatan Tegaldlimo. Masyarakat diberi penunjukan cerita perjalanan Mbok Delima. Selama tiga menit diiringi narasi, para tamu, pejabat, dan masyarakat yang menyaksikan festival di depan Kantor Pemkab Banyuwangi melihat bagaimana Mbok DeIimo yang memiliki selendang sakti memperjuangkan cintanya dengan Panji Gimawang.

Namun, rupanya cinta tersebut tak terbalas. Mbok Delimo yang kecewa pun membuang selendang saktinya. Setelah sesi opening dilewati, tampil satu persatu daerah penampil (Dapil) yang berisi gabungan beberapa kecamtatan yang menyajikan cerita rakyat masing-masing.

Ada kisah Bambang Menak diwisuda yang diusung dapil 1 (Kecamatan Genteng, Sempu, Kalibaru, dan Gambiran). Dengan tokoh utama Kebo Marcuet, penonton dibuat terkesima melihat sosok pria berkumis itu berperang melawan anaknya sendiri, yaitu Bambang menak.

Tabuhan musik tradisional menambah ramainya penampilan tersebut. Setelah Kebo Marcuet tewas, Bambang Menak diwisuda menjadi raja. Di setiap sela antara dapil satu dan dapil lainnya, ada penampilan kabupaten lain.

Kota Denpasar menyajikan kisah Mahabharata yang menampilkan sosok Krisna. Ada juga Tari Wedaringtyas yang disajikan Kota Kediri. Sementara itu, pawai yang diadakan pada malam hari itu membuat masyarakat tidak kepanasan saat menonton.

Mereka pun bisa menyaksikan festival yang sering disebut sebagai Night Carnival tersebut dengan tenang. Terakhir, pada adegan penutup, rombongan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi menyajikan cerita berjudul “Si Gagak Piandel Blambangan”.

Selain menjadi penutup, penampilan itu menjadi gambaran bagi masyarakat terkait Festival Kuwung tahun depan. Lakon “Si Gagak Piandel Blambangan’ mengisahkan keris milik Tawang Alun.  Penampilan terakhir itu semakin ramai saat lampu suar dimainkan setiap pemain.

Berbagai macam warna lampu disorotkan. Itu membuat suasana lebih meriah.  Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata, M. Yanuarto Bramuda menyampaikan banyak yang dapat dipetik dari Festival Kuwung tahun ini.

Tema folklore, menurutnya, membuat banyak orang tahu cerita asli Blambangan. Versi-versi cerita itu, menurut Bram, disajikan oleh oleh sanggar-sanggar di dekat lokasi cerita itu berasal. Peran Festival Kuwung dalam rangka meramaikan Harjaba pun terasa lengkap, karena semua kecamatan aktif berpartisipasi.

Ditambah lagi dengan partisipasi kabupaten tetangga. Menurut Bramuda, hal itu menjadi tanda pamor festival di Banyuwangi cukup baik sehingga banyak orang yang tertarik ikut berperan di dalamnya. Bram mengatakan, tema yang diusung tahun depan adalah sejarah Banyuwangi.

Lakon “Si Gagak Piandel Blambangan” adalah salah satu contoh cerita yang akan disajikan pada festival Kuwung Tahun depan. “Festival ini murni dari rakyat, karena merekalah yang menampilkan berdasar kisah yang berkembang di sekitarnya,” ujar Bramuda. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: