Perajin Batik Tradisional

0
626

Hampir Putus Asa karena Tidak Menemukan Penerus


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

SEPERTI rumah-rumah lain di Jalan Bogowonto,  Kelurahan Temenggungan, rumah milik Kulsum, 80, terlihat sepi. Seperti tidak ada tanda aktivitas di bangunan semi permanen yang dicat putih hijau tersebut. Dari samping halaman rumah tersebut, seseorang menyembulkan kepala dari balik kain warna putih yang terbentang dihadapannya.

Tidak disangka, wanita yang seluruh rambutnya sudah memutih tersebut masih bisa  mendengar dengan jelas bahkan bersuara dengan sangat nyaring ketika mempersilakan Jawa Pos Radar Banyuwangi masuk ke rumahnya. Kulsum sedang membatik.

Dengan cekatan ia menorehkan malam cair ke sehelai kain yang telah digambari pola. Hari ini dia membuat batik paras gempal. Sesuai permintaan pelanggan. “Ini namanya ngereng-reng,” ucap ibu empat anak tersebut. Hampir setiap hari selama 60 puluh tahun  Kulsum yang biasa dipanggil Mbok Sum oleh  tetangga sekitar rumahnya itu selalu membatik  di halaman samping rumahnya.

Mulai pagi hari sekitar pukul 07.00 hingga pukul 15.00. Di halaman samping rumahnya yang terbilang sempit tersebut, terdapat dua penggawangan, satu meja panjang dengan tinggi selutut orang dewasa, bengahan  (tungku dari batu bata), dan  tumpukan kayu bakar.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | ... | Next → | Last