Pramuka Sejati itu Dimakamkan Tepat Hari Pramuka

0
858

In-Memoriam-Bambang-Purwanto,-Kepala-Kelurahan-Kampung-Mandar


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

In Memoriam Bambang Purwanto, Kepala Kelurahan Kampung Mandar

LANGIT di wilayah Kota Banyuwangi tertutup mendung Minggu pagi kemarin (14/8). Suhu udara pun terasa cukup dingin. Kondisi seperti itu cukup pas untuk menikmati liburan dengan bersantai di rumah. Namun, cuaca buruk tersebut tidak berlaku bagi warga yang tinggal di kawasan jalan Ikan Cakalang, Lingkungan Kampung Ujung, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi.

Ratusan orang tampak berkumpul  di bawah terop yang dipasang di depan salah satu rumah di kawasan tersebut. Ekspresi sedih terpancar jelas dari raut  wajah mereka. Betapa tidak, keluarga, kerabat, tetangga, sekaligus tokoh yang cukup disegani karena terkenal baik hati telah tutup usia.

Dia adalah Bambang Purwanto yang sehari-harinya menjabat sebagai Kepala Kelurahan Kampung Mandar. Diantara ratusan pelayat yang hadir di rumah duka, beberapa orang tampak mengenakan pakaian Pramuka.

Awalnya saya mengira orang-orang yang mengenakan baju cokelat muda dan bawahan cokelat tua itu baru saja mengikuti kegiatan Pramuka dan tidak sempat ganti baju sebelum melayat. Apalagi, kemarin diperingati sebagai Hari Pramuka ke-55.

Ternyata dugaan saya itu keliru. Mereka sengaja datang melayat dengan pakaian Pramuka sebagai bentuk penghormatan kepada Almarhum Bambang. Belakangan saya tahu, Bambang adalah anggota Pramuka sejati. Bahkan, beberapa  jam sebelum meninggal dunia karena penyakit jantung pada Sabtu pukul 23.30, Bambang mengikuti renungan dan ulang janji Pramuka di Gedung Kwartir Cabang (Kwarcab)  Pramuka Banyuwangi.

Hal itu diungkapkan salah satu Pengurus Kwarcab Pramuka, Yos Sumiatna alias Kak Yos. Dikatakan, sekitar pukul 20.00 Sabtu,   dirinya bersama Bambang masih sempat mengikuti renungan suci dan ulang janji dalam rangka peringatan Hari Pramuka ke-55.

“Beliau tampak sehat. Beliau sempat mengingatkan teman-teman bahwa walau pun sudah tidak aktif di kepengurusan Kwarcab Pramuka, jiwa Pramuka harus tetap melekat,” kenangnya. Kak Yos menambahkan, kecintaan Bambang terhadap Pramuka tidak perlu diragukan.

Bahkan, meski menjabat sebagai Kepala Kelurahan Kampung Mandar, setiap Jumat Bambang rutin mengenakan pakaian Pramuka. “Saat berdinas di kantor Kelurahan Kampung  Mandar, setiap Jumat beliau mengenakan  pakaian Pramuka,” kata dia.

Bukan sekadar dibuktikan dengan pakaian, Bambang juga tidak segan berkorban demi Pramuka. Yos mengaku teringat kejadian beberapa  tahun lalu. Kala itu, Kwarcab Pramuka Banyuwangi bakal mengikuti kegiatan di tingkat provinsi.

“Karena saat itu Pramuka Banyuwangi mengalami kekurangan dana, beliau rela menjual perahu miliknya untuk tambahan biaya teman-teman mengikuti kegiatan Pramuka di tingkat Jatim tersebut. Sifat beliau memang seperti itu. Tidak bisa melihat teman susah. Walau dirinya sendiri sedang kekurangan, beliau akan membantu teman yang sudah sebisa mungkin,” paparnya.

Hal senada dilontarkan Sunardi, salah satu tetangga Bambang. Menurut dia, semasa hidup Bambang sangat baik kepada para tetangga. “Beliau orangnya sangat ramah. Peduli terhadap tetangga,” tuturnya. Karena kebaikannya itulah, para warga mengaku sangat kehilangan sosok Bambang.

Ratusan orang pun mengantarkan jenazah Bambang menuju tempat pemakaman umum (TPU) di wilayah Lingkungan Welaran, tepatnya di belakang Stadion Diponegoro, Banyuwangi. Sementara itu, Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab  Banyuwangi, Wiyono, yang hadir ke rumah duka sesaat sebelum jenazah Bambang diberangkatkan menuju tempat pemakaman menuturkan, atas nama pemkab, dirinya menyampaikan duka  cita yang sedalam-dalamnya.

“Kita telah ditinggal untuk selama-lamanya oleh salah satu putra terbaik Banyuwangi,” ujarnya. Wiyono menambahkan, dengan bakti dan ke peloporannya, misalnya gerakan penghijauan di pantai, kawasan Kampung Ujung kini menjelma lebih baik dibanding sebelumnya.

“Saat dipimpin beliau, masyarakat Kampung Mandar tenang. Kriminalitas menurun,” puji mantan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana  Daerah (BPBD) Banyuwangi  tersebut.  Wiyono menambahkan, umur boleh dibatasi  usia. Namun, semangat pengabdian Bambang tidak akan lapuk diterpa panas dan hujan.

“Sampai kapan pun semangat dan pengabdian Pak Bambang patut kita lanjutkan. Selamat jalan Pak Bambang. Insya-Allah akan mendapat tempat terbaik di sisi Allah,” pungkasnya. Bambang Purwanto dilahirkan di Banyuwangi  pada 5 Desember 1963.

Nama kecilnya adalah Bambang Sumber. Dari perkawinannya dengan Kasmiyati, Bambang dikaruniahi dua orang  anak. Anak pertama Okki Yoga Purwanto, 23, sudah meninggal dunia. Anak kedua Prameswari  Septi Purwanto, 17.

Bambang menempuh pendidikan di SD Kristen YPSK Banyuwangi lulus tahun 1977. Kemudian melanjutkan ke SMP  Kristen YPSK Banyuwangi, lulus tahun 1980.  Pendidikan SMA-nya di Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan (SMPP) Banyuwangi   (1983) kemudian melanjutkan S1 Manajemen Akutansi Publik di Universitas Setia Malang.

Karier sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dimulai sebagai staf RSUD Genteng (1987).  Dua tahun kemudian, Bambang ditarik sebagai  staf Protokol Pemkab Banyuwangi (1989). Dia  juga pernah menajadi staf Pribadi Bupati   Banyuwangi (1989).

Pada tahun 1999, Bambang diangkat menjadi Kasubbag Humas dan Protokol (1999). Dia  juga pernah duduk sebagai staf Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Banyuwangi (2005) dan Sekretaris Kelurahan Kertosari (2009).  Jabatan terakhir adalah sebagai Kepala  Kelurahan Kampung Mandar. (radar)