Salak Banyuwangi Tembus Hongkong, Pemkab Dampingi Petani Dapat Sertifikasi GAP

0
126
Foto: Merdekacom

BANYUWANGI – Produksi salak asal Kabupaten Banyuwangi telah memasuki ekspor perdana ke Hongkong di tengah pandemik Corona (COVID-19).

Dilansir dari Merdekacom, sebanyak 4 ton salak asal Banyuwangi telah lolos uji standar dan persyaratan teknis sanitari dan fitosanitari (SPS) melalui Karantina Pertanian Surabaya pada pekan ini.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyuwangi mencatat, terdapat 3 kecamatan yang menjadi daerah penghasil salak jenis pondo yang telah masuk pasar ekspor ke Hongkong, yakni Sempu, Licin dan Glenmore.

“Jadi daerah penghasil salak di Banyuwangi itu ada di Sempu, Licin dan Glenmore. Ekspor buah salak oleh eksportir PT. CCI (Cemerlang Cahaya Internasional. Jenis bibitnya salak pondo, itu buah salak yang memang disukai di Indonesia dan pasar ekspor,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyuwangi, Ilham Juanda, Rabu (17/6/2020) kemarin.

Agar petani bisa mendapatkan pasar ekspor, kata Ilham, dinas pertanian terus mendampingi petani buah agar mendapatkan sertifikasi penanaman Good Agricultural Practices (GAP).

Prosedur penanaman GAP, sesuai standar permintaan pasar ekspor petani harus memenuhi syarat minim penggunaan pestisida, budidaya organik dan standar ukuran buah.

“Tidak semua organik, tergantung negara yang mengimpor. Tapi secara umum permintaannya minim pestisida, kemudian dari segi ukuran. Setelah didata, kita latih dan sarana produksi sesuai standar operasional prosedur GAP. Kalau sudah sesuai kita daftarkan untuk mendapatkan sertifikasi GAP. Yang punya wewenang dinas pertanian provinsi, kita bantu mendaftarkan,” jelasnya.

Setelah pendataan komoditas buah unggulan dan pendampingan GAP, Pemkab Banyuwangi bakal menghubungkan para petani dengan eksportir buah.

“Kemudian kita identifikasi bekerjasama dengan eksportir untuk dihubungkan dengan eksportir. Harus ada pencatatan, register bahwa kebunnya itu tanaman buah itu sudah sesuai GAP. Sama dengan sertifikasi. Dan itu gratis, kita fasilitasi, kita bantu,” ujarnya.

Banyuwangi sendiri, kata Ilham, sebenarnya belum menjadi sentra penghasil salak karena luasan tanamnya masih sekitar 10 hektar di tiga kecamatan dengan produktivitas 10 ton per hektar setiap musimnya.

“Salak sebenarnya bukan komoditas utama di Banyuwangi, cuma ada di tiga kecamatan itu dengan luasan 10 hektar. Kemarin (ekspor ke Hongkong) karena di Banyuwangi ada eksportir yang bekerjasama dengan petani. Eksportir tidak hanya mengambil salak dari Banyuwangi, tapi juga dari daerah lain,” katanya.

Sementara dari luasan dan potensi buah lain yang lebih banyak, Banyuwangi dikenal sebagai sentra produksi buah ekspor mulai dari buah naga, manggis, kopi, durian dan jeruk. Selain buah buahan, Banyuwangi juga dikenal sebagai penghasil beras organik yang telah menembus pasar Italia.

“Komoditi buah unggulan kita, salah satunya manggis, kopi, buah naga, durian, jeruk yang masih dalam proses (GAP) ini buah naga. Kalau luasan buah naga bisa sampai 15-20 ribu hektare dari total 65 ribu hektare sawah di Banyuwangi. Itu buah unggulan kita yang terus kita dampingi,” katanya.

Pendampingan penanaman dengan standar GAP, lanjut Ilham, akan terus dilakukan agar jumlah ekspor buah di Banyuwangi semakin meningkat, sehingga bisa meningkatkan nilai jual bagi petani.

Saat memasuki musim panen salak, harga per kilogramnya mencapai Rp 2500. Sementara di luar musim, Rp 4000-5000. Kemudian harga salak super kualitas ekspor bisa naik menjadi Rp 7.500 per kilogramnya.